ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

14 Mar 2012

Tafsir Lirik Mazhab Cinta (Path of Love) - Debu

"Apa agamamu?
"Agamaku agama cinta".
Kemarin malam seorang teman memberikan sebuah link video di YouTube, sebuah video musik berjudul Mazhab Cinta yang dibawakan oleh grup musik Debu. Debu adalah grup musik yang memiliki ciri khas karena musiknya memadukan musik padang pasir dengan balutan unsur beat-beat hip hop, sedikit rock, country dan jazz, juga sentuhan dari alat musik tradisional seperti gendok-gendok (Sulawesi Selatan), santoor (Iran), yaili (Irlandia) dan tambur (Turki). Dari segi lirik, Debu tidak membawakan lagu-lagu religi. Jika kita amati, walaupun dari segi penampilan dan beberapa baris lirik terlihat bergaya islami, namun sebenarnya lagu-lagu yang dibawakan mereka bersifat universal dan tidak ditujukan untuk agama Islam saja.  

Sejujurnya pada awalnya saya agak kesulitan untuk mencerna lirik lagu Mazhab Cinta ini karena saya meragukan pendengaran saya pada beberapa bagian dalam lagu ini. Belakangan saya menyadari ternyata liriknya berbahasa Melayu, bukan Indonesia. Pantas saja.


Untungnya video Mazhab cinta ini memiliki substitle berbahasa inggris yang justru walau bukan bahasa native saya namun jauh lebih mudah untuk saya pahami dibanding bahasa melayu, bahkan mungkin juga bahasa indonesia. Ketika mendengar lagu ini, saya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Debu melalui lagu ini?  Tulisan ini kurang lebihnya merupakan tafsir makna--mungkin lebih tepat jika dikatakan sebuah catatan pendek--saya atas lirik "Mazhab Cinta"-nya Debu. Penafsiran atau catatan saya ini sangat mungkin saja keliru karena saya tidak pernah berinteraksi langsung dan tidak pernah mewawancarai Debu tentang makna dibalik lagu ini. Namun mengingat grup musik Debu ini menyanyikan bait-bait syair sufistik,--dan grup musik ini merupakan murid dari Syeikh Fattah--seorang yang memadukan ajaran tarekat  Rufaiyah, Syadziliyah, Cistiyah, dan Qodiriyah (informasi ini saya dapat dari buku kumpulan puisi Syeikh Fattah yang berjudul Gubahan Pecinta yang saya beli beberapa tahun lalu di sebuah pameran buku di Jakarta),—maka kemungkinan besar lirik lagu ini pun memiliki makna yang terkait dengan ajaran para sufi, khususnya yang berhubungan dengan ajaran Cinta antara hamba dan Tuhannya.

Lagu Mazhab Cinta ini diawali dengan sebuah kalimat negasi
Cinta tak cuma sarana,
Bukanlah pemainan saja,
This love is not merely a means
Nor is it just some kind of game

Sebuah kalimat negasi berfungsi untuk menegasikan sebuah pernyataan positif yang berkebalikan dengannya. Jika kita baca lirik lagu ini, kita dapat mengetahui bahwa yang sedang dinegasikan oleh si penulis lirik adalah makna cinta yang ditafsirkan dengan begitu dangkal oleh kebanyakan orang. Si penulis lirik terbaca sangat menyadari berbagai fenomena yang menunjukkan terjadinya reduksi makna cinta pada kehidupan sehari-hari kita. Kita bisa lihat pendangkalan makna cinta ini pada film-film yang beredar di bioskop atau berbagai sinetron cinta yang banal makna. Fenomena ini tentunya bertentangan dengan nurani penganut ajaran sufi sehingga sepertinya memaksa penulis lirik ini untuk mengawali lagu ini dengan sebuah pernyataan negasi.

Adalah akhlak istana,
Cinta sifat ragam Raja.
It is the law of the palace.
Describing the way of The King

Setelah menegasikan makna cinta yang banal—bahwa cinta bukanlah sebuah alat pun bukan permainan—kemudian ia menyatakan bahwa cinta merupakan aturan main di Istana Sang Raja. Artinya, bahwa apapun yang telah diputuskan oleh Sang Raja untuk kita, baik itu rizki, kondisi fisik, bencana alam, perasaan duka, bahagia atau apapun itu--tidak mungkin tidak—pasti didasari oleh Cinta. Mungkin ada yang merasa pernyataan ini berbahaya karena bisa terlalu bernuansa fatalistik sehingga dapat menyebabkan orang sulit bangkit dari keterpurukan karena nerimo apa adanya dan tidak mau berusaha, dengan dalih “toh semua ini datang dari Cinta Sang Raja”. Sayangnya sifat nerimo yang seperti ini adalah penafsiran salah kaprah atas sifat pasrah. Mungkin akan terlalu melebar jika dalam tulisan ini malah membahas perkara kepasrahan karena yang  ditekankan disini adalah universalitas cinta Sang Raja yang meliputi segalanya, termasuk hal-hal yang dalam anggapan kita itu buruk maupun salah.
Mazhab cinta paling aneh,
Sultan dan hambanya sama,
Kedua-duanya remeh,
Dihapuskan oleh kama.

But there’s just one thing that’s so strange.
The slave and the king are alike
Both of them lose their importance.
They vanish because of Love’s light

Berbicara cinta memang berbicara tentang hal-hal teraneh yang dapat dilakukan. Kalau sudah dilanda cinta, seseorang bisa melakukan hal-hal tergila yang tidak mungkin ia lakukan ketika dalam kondisi normal. Salah satu kisah cinta terbaik yang menarik minat saya adalah kisah Laila Majnun yang ditulis oleh seorang penyair Persia Syeikh Nizami pada akhir abad 12. Sebuah kisah dimana tiap karakter yang diwakilinya menyimbolkan sesuatu, dan hampir setiap scene ceritera—kalau bukan seluruhnya—pada kisah itu memiliki padanan makna dalam ajaran sufi. Bagi yang belum pernah membacanya, kisah Laila Majnun ini bisa memberikan gambaran bagaimana pengaruh cinta terhadap kehidupan seseorang dan bagaimana seharus seorang hamba mencintai Tuhannya.
Pada bagian lirik di atas, digambarkan tidak ada lagi perbedaan antara seorang hamba dengan Rajanya atau dengan kata lain tidak ada lagi perbedaan antara si pecinta dengan yang dicinta. Tidak adanya perbedaan ini disebabkan si pecinta yang telah meleburkan dirinya kepada yang dicinta. Sehingga yang terlihat dari diri si pecinta hanyalah kecintaan terhadap yang dicinta. Cinta inilah yang akhirnya menghilangkan peran dari seorang hamba maupun Raja. Tidak ada lagi hamba, tidak ada lagi Raja. Yang ada hanya Cinta yang melenyapkan keduanya.
Kalau kumenjadi abu,
Di dalam Api Asmara,
Dari daftar wujud itu,
Hilangkanlah nama saya.

If only I could become ash,
Consumed within Love’s burning flame.
 Then in the Book Existence
There’d not be a trace of my name.

Abu merupakan sisa material padat dari proses pembakaran oleh api. Analogi ini merupakan gambaran bagaimana nasib seorang pecinta yang lebur ke dalam Cinta. Seorang pecinta sejati adalah ia yang rela mengorbankan seluruh ego yang dimilikinya. Ia tak lagi peduli apa yang terjadi padanya, apa yang dipikirkan orang lain tentangnya, atau bagaimana nasibnya ketika ia mencinta. Yang ada di benak si pecinta hanyalah cinta dan tidak ada sedikit pun tentang dirinya. Hingga pada akhirnya, tidak ada lagi yang tersisa dari diri si pecinta itu kecuali cinta itu sendiri. Hanya saja, sekali lagi, cinta disini bukanlah cinta sebagaimana yang biasa dipahami oleh kebanyakan pasangan muda-mudi yang sedang dimabuk kasmaran. Cinta ini jauh lebih mulia dari apa yang mereka anggap cinta itu. Penggunaan huruf “L” besar pada kata Love menunjukkan bahwa yang dimaksud cinta disini adalah Cinta Ilahi sebagaimana yang biasa digunakan dalam tradisi sufi, yakni menggunakan huruf besar pada suatu kata untuk menunjukkan kata tersebut memiliki keterkaitan dengan Tuhan. Karena itu, dalam ajaran sufi, pengorbanan seseorang yang mengatas-namakan cinta bukanlah ditujukan untuk hubungan personal, melainkan pengorbanan ego seorang hamba untuk Tuhan yang dicintainya. Semoga hal ini tidak disalah-pahami. :D
Muutu qabla an tamutu,
Dalam api cinta mati,
Itulah maksudnya jitu,
Waktu bersabdanya Nabi.
So you must die before you die,
Die now with Love’s burning flame
Indeed this is what was implied.
When the Prophet these words exclaimed

“Muutu qabla an tamuutu” adalah ucapan Nabi Muhammad SAWW yang berarti “matilah kamu sebelum kamu mati”. Pada ucapan Nabi ini terdapat dua kata yang mengangdung makna kematian. Tapi apakah keduanya sama-sama menunjukkan pada makna kematian fisikal? Tentunya hal ini sangat tidak mungkin. Karena kematian sama tidak mungkin berulang kecuali diselingi oleh penghidupan kembali. Baris pertama pada bait ini sebenarnya sangat berkaitan dengan bait sebelumnya, bahwa cinta meniscayakan seseorang untuk mengorbankan egonya. “Matilah sebelum kamu mati”. Dari kalimat tersebut kita dapat mengetahui bahwa kata mati yang pertama adalah kata perintah sedangkan kata mati yang kedua adalah sebuah keniscayaan. Sebuah perintah berarti memerlukan effort atau usaha dari seseorang sedangkan keniscayaan  adalah sesuatu yang akan dialami oleh semua orang. Karena itu
Kata “Mati” yang kedua adalah kematian fisikal yang pasti dialami oleh semua makhluk yang hidup, sedangkan kata “mati” yang pertama bermakna kematian yang telah digambarkan pada bait syair sebelumnya, yakni kematian ego.
“Muutu qabla an tamuutu”
“Matilah kamu sebelum kamu mati” atau dengan kalimat yang lebih sederhana,
Bunuhlah egomu sebelum kematian fisikmu tiba.

Terakhir, teman saya pasti belum puas dengan catatan saya ini. dan saya harap pun memang begitu. Karena ada  terlalu banyak kekurangan yang tidak bisa saya tutupi pada catatan pendek ini. Karena itu saya ingin menutupi catatan ini dengan mengutip salah satu syair Maulana Rumi tentang kematian ego. Semoga bisa menutupi kekurangan pada catatan ini.
"Engkau telah banyak menderita,
tetapi engkau masih tetap terhijab,
karena kematian itu suatu pokok yang mendasar,
dan engkau belum mencapainya.
Deritamu tidak akan berakhir,
sampai engkau mati"

12:09 | 14.02.2012 @ Grand Wisata, Bekasi. |

No comments:

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei