ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

5 Mar 2012

Ikat Rambut

Ini bukan kali pertama saya membeli ikat rambut di jembatan penyebrangan halte komdak. Beberapa hari lalu ikat rambut saya hilang entah terselip di dalam tas ransel atau bersembunyi di dalam tas berisi kabel-kabel charger hp dan laptop. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini saya mengalami diskusi bathin dengan diri saya sendiri selama saya berjalan dari pinggir atas jembatan sampai ke tengah jembatan penyebrangan--tempat si abang tukang ikat rambut itu berjualan. Di sepanjang 50 meter itu saya memikirkan kira-kira apa yang menyebabkan para  penjual pernak-pernik kecantikan (seperti bando, ikat rambut, sisir, dan lainnya) di jalan ini memilih pernak-pernik itu sebagai barang dagangannya. Kenapa mereka memilih barang-barang murah seperti itu untuk dijual? Kenapa mereka tidak memilih barang yang--setidaknya sedikit--lebih mahal agar keuntungan yang didapat tentunya lebih besar?

Ikat rambut yang saya beli itu seharga Rp.2000,-. Satu plastik berisi dua ikat rambut. Berarti masing-masing ikat rambut seharga Rp.1000,-. Mungkin keuntungan Rp.500,- untuk per ikat rambutnya itu sudah termasuk sangat besar. Saya tak habis pikir kenapa mereka mau berjualan seperti itu. Saya sama sekali tidak sedang merendahkan mereka. Tapi saya hanya keheranan dan dilanda penasaran yang besar, apa sebenarnya yang membuat mereka nyaman berjualan seperti itu? Atau jangan-jangan mereka memang tidak nyaman dan tidak mau berjualan seperti itu? Kalau memang tidak nyaman, kenapa setelah lebih dari enam tahun, saya masih sering menemukan penjual ikat rambut yang sama di tengah perjalanan bis 102? Apakah mereka tidak berani mengambil risiko, keluar dari pekerjaannya dan mencari atau menciptakan pekerjaan yang lebih baik untuk dirinya?

Setelah saling berterima kasih, saya meninggalkan penjual ikat rambut itu. Sambil jalan kaki, saya membuka plastik ikat rambut itu. Saya berhenti sejenak, lalu saya ikat rambut saya yang sebenarnya tidak terlalu panjang. Hanya saja tertidur di bis membuat rambut ikal saya terlihat (lebih) berantakan. Sesaat setelah rambut saya terikat, saya merasa ikat rambut yang dijual abang abang tadi sangat berguna. Dalam hati saya berterima kasih untuk kedua-kalinya. Tiba-tiba saya terdiam, seperti ada yang menarik-narik rambut saya. Saya sentuh ikatan rambut saya. Tak ada apa-apa kecuali pertanyaan yang tiba-tiba memaksa perenungan, bukan jawaban: Andai tak ada tukang ikat rambut yang berpola pikir sederhana sepertinya, bukankah kebutuhan sebagian orang menjadi tidak terpenuhi? Saya dan sebagian besar orang mungkin tidak akan mau mampir ke Bodyshop atau Toko Ikat Rambut Emak di Mall tengah kota, dan menghabiskan uang puluhan, ratusan atau bahkan jutaan rupiah hanya untuk sebuah ikat rambut. Beruntungnya ada si penjual ikat rambut tadi. Dengan hanya mengeluarkan kocek Rp.2000,- penampilan saya tidak terlalu berantakan.*walau sebenarnya tidak jauh berbeda* :p

Ada dua hal yang menarik perhatian saya. Pertama, jika dilihat dari segi ekonomi, abang penjual ikat rambut ini mungkin jauh di bawah saya. Rata-rata penghasilannya per hari mungkin tak lebih dari Rp.15.000,-. Tapi kemungkinan uang Rp. 15.000 itu sudah cukup memenuhi sebagai (kalau bukan seluruhnya) dari kebutuhannya. Saya yakin uang segitu belum cukup untuk memenuhi teman-teman saya yang sedang membaca tulisan ini via smartphone, bebe maupun laptop. Apalagi untuk sebagian teman saya yang sudah berkeluarga dan punya anak, pasti tidak akan cukup.

Kedua, ini ada kaitannya dengan keseimbangan alam. Mayoritas kita mungkin sering atau setidaknya pernah mendengar tentang teori butterfly effect. Sebuah teori yang menyatakan kepakan kupu-kupu yang terjadi di satu lokasi bisa menyebabkan badai di lokasi lainnya. Seekor semut kecil bisa saja mempunyai pengaruh pada keseimbangan semesta. Saya tidak mempunyai kemampuan untuk menjelaskan detail teori tersebut di catatan ini. Namun ada yang ingin bisa saya tarik kesimpulan darinya; bahwa semesta ini saling terkait dan saling menyeimbangkan satu dengan lainnya. Malam dan siang, perempuan dam lelaki, si miskin dan si kaya, si pintar dan si kurang pintar, atau si bijak dan si pendzalim. Antara satu dengan lainnya saling melengkapi agar semesta ini tampak lebih harmonis.  Saya sedang coba membayangkan, andai tidak ada orang yang mau berjualan ikat rambut, apakah mungkin saya dan para pemilik rambut gondrong lainnya bisa mengikat rambut dengan hanya mengeluarkan satu dua lembar ribuan? Andai saja si penjual ikat rambut itu dan para penjual ikat rambut lainnya mempunyai pemikiran yang sama dengan saya dalam hal ini; merasa keuntungan yang didapatnya itu terlalu kecil untuk tenaga yang dibuangnya, kemudian mereka berhenti berjualan ikat rambut dengan harga murah, maka akan seperti apa nasib para manusia gondrong kere yang tidak mempunyai uang banyak namun ingin tampil lebih rapi dan gaya? saya tidak bisa membayangkan.


05.03.2011 | Ruang Breakroom IDX, Jakarta.

2 comments:

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei