ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

22 Mar 2012

Global March to Jerusalem (GMJ) - Indonesia Open Recruitment

0 komentar
This poster was made by Filolet for purpose of spreading info.
MENGUNDANG SEMUA KALANGAN, MEDIA, MASYARAKAT SIPIL, PEMELUK 3 AGAMA BESAR (ISLAM, KRISTEN, YAHUDI DAN PARA PECINTA KEADILAN DAN KEMANUSIAAN

GMJ ADALAH KAMPANYE MASYARAKAT SIPIL DUNIA UNTUK MEMBEBASKAN JERUSALEM DARI PENJAJAHAN ZIONIS ISRAEL UNTUK 3 AGAMA BESAR (ISLAM, KRISTEN, YAHUDI) DAN PARA PECINTA KEADILAN DAN KEMANUSIAANL

SEMUA PESERTA DARI ASIA, AFRIKA, EROPA, AMERIKA,AUSTRALIA AKAN BERTEMU DI PERBATASAN JORDAN- ISRAEL 30 MARET 2012

DONASI:
No rek donasi blm ada mas: BCA, 686.0141114, a/n. Medical Emergency Rescue Committee

PRESS RELEASE DAN LAUNCHING:

SABTU, 16.00 WIB, 11 FEBRUARI 2012
DI KANTOR MER-C:

MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)
Gedung MER-C, Jl. Kramat Lontar No. J-157, Senen, Jakarta Pusat 10440

Telp/Fax : 021-3159235 / 3159256
HP : 0811 99 0176
Website : www.mer-c.org  
Email : merc@indosat.net.id; gmjindonesia@gmail.com 

SELENGKAPNYA DAN DAFTAR: 

KLIK BANER GMJ, www.voiceofpalestine.net ,www.mer-c.org

DI DUKUNG OLEH:  

[ + ] MER-C. VOP (VOICE OF PALESTINE), 
[ + ] (AWG) AQSA WORKING GRUP, 
[ + ] HILAL AHMAR SOCIETY INDONESIA, 
[ + ] MEGAWATI INSTITUTE, 
[ + ] MAARIF INSTITUTE, 
[ + ] RADIO RASIL 720 AM, 
[ + ] VIVA PALESTINA INDONESIA, 
[ + ] RUMAH ZAKAT, 
[ + ] DANA MUSTADAFIN, 
[ + ] I LOVE MUHAMMAD NETWORK
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Software Used: Xara Designer Pro 7 
Time: Thursday, March 22, 2012
Client: no
Read more

Have You Talked to God Today?

0 komentar

Read more

21 Mar 2012

Rumah Pohon Impian

0 komentar


 
I like the tree houses concept in the second picture and I will make it someday for her, maybe with different architecture and material. And I like also the ambience in the first picture. It comes peace for me. I’ll try to combine both concept for her, I will.
Read more

18 Mar 2012

The Raid: Serbuan Maut (2011) Akan Di Remake Hollywood

0 komentar

The Raid: Serbuan Maut (2011) Akan Di Remake Hollywood

Meski belum diputar secara komersial, film Serbuan Maut atau yang memiliki judul internasional The Raid sudah beberapa kali membuat kejutan. Setelah mendapat banyak apresiasi dari penonton dan kritikus film serta menerima penghargaan di Toronto Film Festival, kini Hollywood pun dikabarkan akan membuat ulang (remake) film tersebut.

Beyondhollywood.com (20/9) melansir bahwa saat ini rumah produksi Screen Gems sedang tahap negosiasi dengan pihak terkait untuk mendapatkan hak pembuatan ulang ‘Serbuan Maut’. Screen Gems sendiri adalah anak perusahaan Sony Pictures yang sebelumnya telah membeli hak edarnya.

The Raid: Serbuan Maut (2012)

Ketika diputar Toronto Film Festival 2011 pekan lalu, banyak penonton yang takjub melihat adegan action yang diperagakan Iko Uwais, Joe Taslim, dan Yayan Ruhian. Film karya sutradara Gareth Evans itu juga diberitakan menjadi salah satu film yang memimpin penjualan dari 31 film yang dipasarkan festival tersebut.

Mungkin Screen Gems tidak akan sulit untuk mendapatkan hak membuat ulang ‘Serbuan Maut’ karena hak distribusi film tersebut memang dibeli oleh Sony Pictures WorldWide Acquisition (SPWA).

Namun, Hollywood harus mencari sutradara yang tepat. Gareth Evans telah mengumumkan jika dirinya tak mau membuat ulang film tersebut. Namun demikian, Evans dikabarkan telah menyiapkan sekuel ‘Serbuan Maut’ yang akan rencananya mulai syuting pada Januari 2012.

Rencana Hollywood membuat ulang The Raid mendapat tanggapan dari beberapa penikmat film. Berikut ini beberapa komentar dari pembaca beyondhollywood.

“this is very frustrating to hear. why not put more effort behind actually getting The Raid released into theaters in the U.S. so people can see it, instead of trying to remake a movie that hasn’t even been released to the general public yet.”

“Damn Hollywood, I rarely like your remake movies. I’m pretty sure any remake of The Raid won’t be half as good as the original. What makes The Raid great is everyone in the production (cast and crews) put their heart and soul in it. Evans’ care to the details, Flannery’s visionary cinematography, Iko’s and Yayan’s brilliant choreography. I already feel sorry for the people in the US if they can only see the remake in their theaters.”

Kisah film ‘Serbuan Maut’ (The Raid) mengambil setting lokasi di jantung komunitas kumuh Jakarta, tepatnya di sebuah gedung markas persembunyian kalangan gangster paling berbahaya di dunia. Sebuah pasukan elit mendapatkan tugas untuk menyerbu markas kriminal tersebut guna meringkus kepala penjahat pengedar narkoba.

Mengetahui bahwa mereka sedang diincar, para kriminal pun mematikan seluruh aliran listrik dan memblokir semua jalan keluar. Terperangkap di lantai 6 gedung tersebut, pasukan elit itu diharuskan berjuang mencari jalan keluar demi menyelesaikan misi mereka.
Berikut ini beberapa kutipan berisi komentar dari beberapa media AS, dan kritikus film usai menyaksikan 'Serbuan Maut':

"Holy shit I haven't seen an action movie this good in years! I felt that way only 30 minutes in, but after the full 100 minutes, I still felt the same and had to exclaim that here, right upfront, because it deserves that much praise." Alex Billington - firstshowing.net

"The Raid (Serbuan Maut) is the best Aristotelian-unity action film since "Die Hard." James Rocchi - MSN Movies'

"The Raid (Serbuan Maut) is a near perfect action movie." Drew McWeeny - HitFix.
SOURCE:  The Raid
Read more

15 Mar 2012

Jam Malam Rawan Kanker Prostat dan Payudara

0 komentar
Badan kesehatan dunia WHO baru saja mengeluarkan surat rekomendasi kepada badan negara anggota PBB untuk menilik kembali peraturan shift malam warganya.

Sebuah riset yang berlangsung dari 1987 oleh ahli kanker Steve Richards menunjukkan korelasi antara kerja malam dan kemungkinan menderita kanker, terutama kanker prostat dan payudara.

Orang-orang yang bekerja di malam hari hingga subuh atau pagi hari ternyata memiliki ketidakseimbangan hormon yang akhirnya mempengaruhi sistem kekebalan tubuh khususnya pada perkembangan sel-sel rusak yang seharusnya dihancurkan oleh sel-sel imun.

Pada tubuh normal, yakni waktu kerja pagi-sore, siklus metabolisme tubuh akan meningkat di pagi hari dan mulai menurun hingga malam hari. Saat seseorang memaksakan untuk terjaga di malam hari, tubuh akan memompa darah sebanyak mungkin dan mendorong sistem imun untuk meningkatkan sel-sel kekebalan tubuh seperti sel T dan CD4.

Bila "pemaksaan" ini dilakukan satu-dua kali, tubuh masih dapat memberikan toleransi tetapi saat menjadi kebiasaan, siklus tubuh yang diatur oleh jam biologis otak (circadian time clock) akan berubah dari default (pagi-sore) menjadi sore-pagi.

Ini membuat kekebalan tubuh menurun di pagi hari dimana bibit penyakit dan bahan-bahan karsinogenik bertebaran di udara akibat perubahan suhu dan angin. Hasil riset ini dipublikasikan dalam The Lancet Oncology.

SOURCE: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3685376
Read more

14 Mar 2012

Tafsir Lirik Mazhab Cinta (Path of Love) - Debu

0 komentar
"Apa agamamu?
"Agamaku agama cinta".
Kemarin malam seorang teman memberikan sebuah link video di YouTube, sebuah video musik berjudul Mazhab Cinta yang dibawakan oleh grup musik Debu. Debu adalah grup musik yang memiliki ciri khas karena musiknya memadukan musik padang pasir dengan balutan unsur beat-beat hip hop, sedikit rock, country dan jazz, juga sentuhan dari alat musik tradisional seperti gendok-gendok (Sulawesi Selatan), santoor (Iran), yaili (Irlandia) dan tambur (Turki). Dari segi lirik, Debu tidak membawakan lagu-lagu religi. Jika kita amati, walaupun dari segi penampilan dan beberapa baris lirik terlihat bergaya islami, namun sebenarnya lagu-lagu yang dibawakan mereka bersifat universal dan tidak ditujukan untuk agama Islam saja.  

Sejujurnya pada awalnya saya agak kesulitan untuk mencerna lirik lagu Mazhab Cinta ini karena saya meragukan pendengaran saya pada beberapa bagian dalam lagu ini. Belakangan saya menyadari ternyata liriknya berbahasa Melayu, bukan Indonesia. Pantas saja.


Untungnya video Mazhab cinta ini memiliki substitle berbahasa inggris yang justru walau bukan bahasa native saya namun jauh lebih mudah untuk saya pahami dibanding bahasa melayu, bahkan mungkin juga bahasa indonesia. Ketika mendengar lagu ini, saya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Debu melalui lagu ini?  Tulisan ini kurang lebihnya merupakan tafsir makna--mungkin lebih tepat jika dikatakan sebuah catatan pendek--saya atas lirik "Mazhab Cinta"-nya Debu. Penafsiran atau catatan saya ini sangat mungkin saja keliru karena saya tidak pernah berinteraksi langsung dan tidak pernah mewawancarai Debu tentang makna dibalik lagu ini. Namun mengingat grup musik Debu ini menyanyikan bait-bait syair sufistik,--dan grup musik ini merupakan murid dari Syeikh Fattah--seorang yang memadukan ajaran tarekat  Rufaiyah, Syadziliyah, Cistiyah, dan Qodiriyah (informasi ini saya dapat dari buku kumpulan puisi Syeikh Fattah yang berjudul Gubahan Pecinta yang saya beli beberapa tahun lalu di sebuah pameran buku di Jakarta),—maka kemungkinan besar lirik lagu ini pun memiliki makna yang terkait dengan ajaran para sufi, khususnya yang berhubungan dengan ajaran Cinta antara hamba dan Tuhannya.

Lagu Mazhab Cinta ini diawali dengan sebuah kalimat negasi
Cinta tak cuma sarana,
Bukanlah pemainan saja,
This love is not merely a means
Nor is it just some kind of game

Sebuah kalimat negasi berfungsi untuk menegasikan sebuah pernyataan positif yang berkebalikan dengannya. Jika kita baca lirik lagu ini, kita dapat mengetahui bahwa yang sedang dinegasikan oleh si penulis lirik adalah makna cinta yang ditafsirkan dengan begitu dangkal oleh kebanyakan orang. Si penulis lirik terbaca sangat menyadari berbagai fenomena yang menunjukkan terjadinya reduksi makna cinta pada kehidupan sehari-hari kita. Kita bisa lihat pendangkalan makna cinta ini pada film-film yang beredar di bioskop atau berbagai sinetron cinta yang banal makna. Fenomena ini tentunya bertentangan dengan nurani penganut ajaran sufi sehingga sepertinya memaksa penulis lirik ini untuk mengawali lagu ini dengan sebuah pernyataan negasi.

Adalah akhlak istana,
Cinta sifat ragam Raja.
It is the law of the palace.
Describing the way of The King

Setelah menegasikan makna cinta yang banal—bahwa cinta bukanlah sebuah alat pun bukan permainan—kemudian ia menyatakan bahwa cinta merupakan aturan main di Istana Sang Raja. Artinya, bahwa apapun yang telah diputuskan oleh Sang Raja untuk kita, baik itu rizki, kondisi fisik, bencana alam, perasaan duka, bahagia atau apapun itu--tidak mungkin tidak—pasti didasari oleh Cinta. Mungkin ada yang merasa pernyataan ini berbahaya karena bisa terlalu bernuansa fatalistik sehingga dapat menyebabkan orang sulit bangkit dari keterpurukan karena nerimo apa adanya dan tidak mau berusaha, dengan dalih “toh semua ini datang dari Cinta Sang Raja”. Sayangnya sifat nerimo yang seperti ini adalah penafsiran salah kaprah atas sifat pasrah. Mungkin akan terlalu melebar jika dalam tulisan ini malah membahas perkara kepasrahan karena yang  ditekankan disini adalah universalitas cinta Sang Raja yang meliputi segalanya, termasuk hal-hal yang dalam anggapan kita itu buruk maupun salah.
Mazhab cinta paling aneh,
Sultan dan hambanya sama,
Kedua-duanya remeh,
Dihapuskan oleh kama.

But there’s just one thing that’s so strange.
The slave and the king are alike
Both of them lose their importance.
They vanish because of Love’s light

Berbicara cinta memang berbicara tentang hal-hal teraneh yang dapat dilakukan. Kalau sudah dilanda cinta, seseorang bisa melakukan hal-hal tergila yang tidak mungkin ia lakukan ketika dalam kondisi normal. Salah satu kisah cinta terbaik yang menarik minat saya adalah kisah Laila Majnun yang ditulis oleh seorang penyair Persia Syeikh Nizami pada akhir abad 12. Sebuah kisah dimana tiap karakter yang diwakilinya menyimbolkan sesuatu, dan hampir setiap scene ceritera—kalau bukan seluruhnya—pada kisah itu memiliki padanan makna dalam ajaran sufi. Bagi yang belum pernah membacanya, kisah Laila Majnun ini bisa memberikan gambaran bagaimana pengaruh cinta terhadap kehidupan seseorang dan bagaimana seharus seorang hamba mencintai Tuhannya.
Pada bagian lirik di atas, digambarkan tidak ada lagi perbedaan antara seorang hamba dengan Rajanya atau dengan kata lain tidak ada lagi perbedaan antara si pecinta dengan yang dicinta. Tidak adanya perbedaan ini disebabkan si pecinta yang telah meleburkan dirinya kepada yang dicinta. Sehingga yang terlihat dari diri si pecinta hanyalah kecintaan terhadap yang dicinta. Cinta inilah yang akhirnya menghilangkan peran dari seorang hamba maupun Raja. Tidak ada lagi hamba, tidak ada lagi Raja. Yang ada hanya Cinta yang melenyapkan keduanya.
Kalau kumenjadi abu,
Di dalam Api Asmara,
Dari daftar wujud itu,
Hilangkanlah nama saya.

If only I could become ash,
Consumed within Love’s burning flame.
 Then in the Book Existence
There’d not be a trace of my name.

Abu merupakan sisa material padat dari proses pembakaran oleh api. Analogi ini merupakan gambaran bagaimana nasib seorang pecinta yang lebur ke dalam Cinta. Seorang pecinta sejati adalah ia yang rela mengorbankan seluruh ego yang dimilikinya. Ia tak lagi peduli apa yang terjadi padanya, apa yang dipikirkan orang lain tentangnya, atau bagaimana nasibnya ketika ia mencinta. Yang ada di benak si pecinta hanyalah cinta dan tidak ada sedikit pun tentang dirinya. Hingga pada akhirnya, tidak ada lagi yang tersisa dari diri si pecinta itu kecuali cinta itu sendiri. Hanya saja, sekali lagi, cinta disini bukanlah cinta sebagaimana yang biasa dipahami oleh kebanyakan pasangan muda-mudi yang sedang dimabuk kasmaran. Cinta ini jauh lebih mulia dari apa yang mereka anggap cinta itu. Penggunaan huruf “L” besar pada kata Love menunjukkan bahwa yang dimaksud cinta disini adalah Cinta Ilahi sebagaimana yang biasa digunakan dalam tradisi sufi, yakni menggunakan huruf besar pada suatu kata untuk menunjukkan kata tersebut memiliki keterkaitan dengan Tuhan. Karena itu, dalam ajaran sufi, pengorbanan seseorang yang mengatas-namakan cinta bukanlah ditujukan untuk hubungan personal, melainkan pengorbanan ego seorang hamba untuk Tuhan yang dicintainya. Semoga hal ini tidak disalah-pahami. :D
Muutu qabla an tamutu,
Dalam api cinta mati,
Itulah maksudnya jitu,
Waktu bersabdanya Nabi.
So you must die before you die,
Die now with Love’s burning flame
Indeed this is what was implied.
When the Prophet these words exclaimed

“Muutu qabla an tamuutu” adalah ucapan Nabi Muhammad SAWW yang berarti “matilah kamu sebelum kamu mati”. Pada ucapan Nabi ini terdapat dua kata yang mengangdung makna kematian. Tapi apakah keduanya sama-sama menunjukkan pada makna kematian fisikal? Tentunya hal ini sangat tidak mungkin. Karena kematian sama tidak mungkin berulang kecuali diselingi oleh penghidupan kembali. Baris pertama pada bait ini sebenarnya sangat berkaitan dengan bait sebelumnya, bahwa cinta meniscayakan seseorang untuk mengorbankan egonya. “Matilah sebelum kamu mati”. Dari kalimat tersebut kita dapat mengetahui bahwa kata mati yang pertama adalah kata perintah sedangkan kata mati yang kedua adalah sebuah keniscayaan. Sebuah perintah berarti memerlukan effort atau usaha dari seseorang sedangkan keniscayaan  adalah sesuatu yang akan dialami oleh semua orang. Karena itu
Kata “Mati” yang kedua adalah kematian fisikal yang pasti dialami oleh semua makhluk yang hidup, sedangkan kata “mati” yang pertama bermakna kematian yang telah digambarkan pada bait syair sebelumnya, yakni kematian ego.
“Muutu qabla an tamuutu”
“Matilah kamu sebelum kamu mati” atau dengan kalimat yang lebih sederhana,
Bunuhlah egomu sebelum kematian fisikmu tiba.

Terakhir, teman saya pasti belum puas dengan catatan saya ini. dan saya harap pun memang begitu. Karena ada  terlalu banyak kekurangan yang tidak bisa saya tutupi pada catatan pendek ini. Karena itu saya ingin menutupi catatan ini dengan mengutip salah satu syair Maulana Rumi tentang kematian ego. Semoga bisa menutupi kekurangan pada catatan ini.
"Engkau telah banyak menderita,
tetapi engkau masih tetap terhijab,
karena kematian itu suatu pokok yang mendasar,
dan engkau belum mencapainya.
Deritamu tidak akan berakhir,
sampai engkau mati"

12:09 | 14.02.2012 @ Grand Wisata, Bekasi. |
Read more

5 Mar 2012

Ikat Rambut

2 komentar
Ini bukan kali pertama saya membeli ikat rambut di jembatan penyebrangan halte komdak. Beberapa hari lalu ikat rambut saya hilang entah terselip di dalam tas ransel atau bersembunyi di dalam tas berisi kabel-kabel charger hp dan laptop. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini saya mengalami diskusi bathin dengan diri saya sendiri selama saya berjalan dari pinggir atas jembatan sampai ke tengah jembatan penyebrangan--tempat si abang tukang ikat rambut itu berjualan. Di sepanjang 50 meter itu saya memikirkan kira-kira apa yang menyebabkan para  penjual pernak-pernik kecantikan (seperti bando, ikat rambut, sisir, dan lainnya) di jalan ini memilih pernak-pernik itu sebagai barang dagangannya. Kenapa mereka memilih barang-barang murah seperti itu untuk dijual? Kenapa mereka tidak memilih barang yang--setidaknya sedikit--lebih mahal agar keuntungan yang didapat tentunya lebih besar?

Ikat rambut yang saya beli itu seharga Rp.2000,-. Satu plastik berisi dua ikat rambut. Berarti masing-masing ikat rambut seharga Rp.1000,-. Mungkin keuntungan Rp.500,- untuk per ikat rambutnya itu sudah termasuk sangat besar. Saya tak habis pikir kenapa mereka mau berjualan seperti itu. Saya sama sekali tidak sedang merendahkan mereka. Tapi saya hanya keheranan dan dilanda penasaran yang besar, apa sebenarnya yang membuat mereka nyaman berjualan seperti itu? Atau jangan-jangan mereka memang tidak nyaman dan tidak mau berjualan seperti itu? Kalau memang tidak nyaman, kenapa setelah lebih dari enam tahun, saya masih sering menemukan penjual ikat rambut yang sama di tengah perjalanan bis 102? Apakah mereka tidak berani mengambil risiko, keluar dari pekerjaannya dan mencari atau menciptakan pekerjaan yang lebih baik untuk dirinya?

Setelah saling berterima kasih, saya meninggalkan penjual ikat rambut itu. Sambil jalan kaki, saya membuka plastik ikat rambut itu. Saya berhenti sejenak, lalu saya ikat rambut saya yang sebenarnya tidak terlalu panjang. Hanya saja tertidur di bis membuat rambut ikal saya terlihat (lebih) berantakan. Sesaat setelah rambut saya terikat, saya merasa ikat rambut yang dijual abang abang tadi sangat berguna. Dalam hati saya berterima kasih untuk kedua-kalinya. Tiba-tiba saya terdiam, seperti ada yang menarik-narik rambut saya. Saya sentuh ikatan rambut saya. Tak ada apa-apa kecuali pertanyaan yang tiba-tiba memaksa perenungan, bukan jawaban: Andai tak ada tukang ikat rambut yang berpola pikir sederhana sepertinya, bukankah kebutuhan sebagian orang menjadi tidak terpenuhi? Saya dan sebagian besar orang mungkin tidak akan mau mampir ke Bodyshop atau Toko Ikat Rambut Emak di Mall tengah kota, dan menghabiskan uang puluhan, ratusan atau bahkan jutaan rupiah hanya untuk sebuah ikat rambut. Beruntungnya ada si penjual ikat rambut tadi. Dengan hanya mengeluarkan kocek Rp.2000,- penampilan saya tidak terlalu berantakan.*walau sebenarnya tidak jauh berbeda* :p

Ada dua hal yang menarik perhatian saya. Pertama, jika dilihat dari segi ekonomi, abang penjual ikat rambut ini mungkin jauh di bawah saya. Rata-rata penghasilannya per hari mungkin tak lebih dari Rp.15.000,-. Tapi kemungkinan uang Rp. 15.000 itu sudah cukup memenuhi sebagai (kalau bukan seluruhnya) dari kebutuhannya. Saya yakin uang segitu belum cukup untuk memenuhi teman-teman saya yang sedang membaca tulisan ini via smartphone, bebe maupun laptop. Apalagi untuk sebagian teman saya yang sudah berkeluarga dan punya anak, pasti tidak akan cukup.

Kedua, ini ada kaitannya dengan keseimbangan alam. Mayoritas kita mungkin sering atau setidaknya pernah mendengar tentang teori butterfly effect. Sebuah teori yang menyatakan kepakan kupu-kupu yang terjadi di satu lokasi bisa menyebabkan badai di lokasi lainnya. Seekor semut kecil bisa saja mempunyai pengaruh pada keseimbangan semesta. Saya tidak mempunyai kemampuan untuk menjelaskan detail teori tersebut di catatan ini. Namun ada yang ingin bisa saya tarik kesimpulan darinya; bahwa semesta ini saling terkait dan saling menyeimbangkan satu dengan lainnya. Malam dan siang, perempuan dam lelaki, si miskin dan si kaya, si pintar dan si kurang pintar, atau si bijak dan si pendzalim. Antara satu dengan lainnya saling melengkapi agar semesta ini tampak lebih harmonis.  Saya sedang coba membayangkan, andai tidak ada orang yang mau berjualan ikat rambut, apakah mungkin saya dan para pemilik rambut gondrong lainnya bisa mengikat rambut dengan hanya mengeluarkan satu dua lembar ribuan? Andai saja si penjual ikat rambut itu dan para penjual ikat rambut lainnya mempunyai pemikiran yang sama dengan saya dalam hal ini; merasa keuntungan yang didapatnya itu terlalu kecil untuk tenaga yang dibuangnya, kemudian mereka berhenti berjualan ikat rambut dengan harga murah, maka akan seperti apa nasib para manusia gondrong kere yang tidak mempunyai uang banyak namun ingin tampil lebih rapi dan gaya? saya tidak bisa membayangkan.


05.03.2011 | Ruang Breakroom IDX, Jakarta.
Read more

3 Mar 2012

Mengenang Kh. Abdullah Faqih

0 komentar
In memoriam:  KH Abdullah Faqih
HAMBA ALLAH DARI JAWA TIMUR

Oleh: A. Mustofa Bisri
Puluhan ribu orang datang melayat ke Langitan, Widang,Tuban. Entah berapa ribu lagi yang ingin datang tak kesampaian. Jalan raya pantura macet 5 km terhambat  lautan manusia. Sehari sebelumnya,  hari  Rabu, 29 Februari 2012, para pelayat sudah mulai berdatangan.  Sementara di gedung PBNU dan beberapa tempat  lain,  orang-orang  berdzikir dan berdoa. Belum lagi mereka yang menyampaikan takziahnya melalui  SMS, Facebook, dan Twitter.  Pada hari Rabu itu, sekitar jam 18.30, tokoh spiritual kharismatik NU, pengasuh Pesantren Langitan:  KH Abdullah Faqih dipanggil ke hadirat Ilahi. Innaa liLlaahi wainnaa ilaiHi raaji’uun.

Apabila ciri utama waliyullah, kekasih Allah, itu istiqamah dan dicintai orang banyak, maka  pastilah Kiai Abdullah Faqih –seperti keyakinan saya— termasuk waliyullah. Saya kebetulan mendapat anugerah kenal secara pribadi dan sering menjadi ‘penderek’ kegiatan yang melibatkan kiai tawaduk berwajah manis ini. Saya termasuk yang bersaksi mengenahi keistiqamahan beliau; baik istiqamah secara bahasa (lughatan ) mau pun menurut  istilah (isthilaahan)

Semua orang tahu belaka keistiqamahan beliau dalam menjunjung tinggi norma-norma dan ajaran Islam. Karena hal itu mewujud dalam sikap dan perilaku beliau sehari-hari. Beliau adalah jenis kiai yang sebenar-benar kiai. Kiai yang berusaha semaksimal dan seoptimal mungkin mengikuti dan meniru jejak pemimpin agungnya,  Nabi Muhammad SAW. Beliau lembut, penyayang, rendah hati, ikhlas, dan suka menolong. Mereka yang pernah bergaul dengan Kiai Abdullah Faqih pasti bisa bercerita banyak tentang kelembutan sikap maupun tutur kata beliau.

Kiai Abdullah Faqih istiqamah mengayomi santri dan masyarakat. Bahkan mengayomi para kiai yang ‘berijtihad’ berjuang melalui politik praktis. Beliau mengayomi  seraya mendidik. Beliau mengayomi dan mendidik –tidak hanya mengajar-- para santrinya. Beliau mengayomi dan mendidik masyarakat dengan sikap –tidak hanya dengan tutur kata. Ketika para kiai pendukung Gus Dur merasa kecewa, Kiai Faqih mengayomi mereka dengan menyediakan perhatian  dan pemikiran –tidak hanya waktu dan tempatnya.

Saya menggunakan istilah mendidik, karena Kiai Abdullah Faqih memang tidak sekedar member nasihat dan bila beramar-makruf-nahi-munkar hampir tidak terasa ‘amar’ mau pun ‘nahi’-nya oleh sebab kelembutannya itu tadi . Menasehati pun, beliau tidak terasa menasehati, karena beliau menyampaikan dengan ikhlas dan tidak menggurui. Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana beliau ‘menasihati’ Gus Dur, Allahu yarhamuh, dan Gus Dur  menerima dengan berterimakasih.  

Kiai Abdullah Faqih dari Jawa Timur adalah satu dari tiga hamba Allah yang  sempat disebut-sebut sebagai ‘Penyangga Tanah Jawa’. Beliau menyusul dua hamba Allah yang lain yang sudah lebih dahulu dipanggil ke hadiratNya ; yaitu dari Jawa Tengah: Kiai Abdullah Salam Kajen Pati, wafat  11 November 2001 dan dari Jawa Barat: Kiai Abdullah Abbas Buntet Cirebon, wafat 10 Agustu 2007. Rahimahumullah. 3 Abadilah, hamba-hamba Allah, inilah yang dulu mempelopori  mendukung Gus Dur agar menjadi Kiai Bangsa sajatidak menjadi – sekedar—presiden. Namun, ketika Gus Dur berijtihad menjadi presiden, mereka ini tidak menghalang-halangi.

3 tokoh Abdullah dari Jawa ini memang mempunyai banyak kemiripan. Mereka kiai pengasuh pesantren dengan ilmu keIslaman yang cukup dan akhlak yang mulia. ‘Mewakafkan’ diri mereka untuk masyarakat dan tidak pernah mementingkan diri sendiri. Menyintai dan peduli  terhadap Indonesia dan rakyat Indonesia. Ikhlas berjuang untuk itu secara lahir dan batin. Beramal dan berdoa. Semoga Allah menempatkan mereka di tempat yang indah di sisiNya.

Dengan wafatnya Kiai Abdullah Faqih, rahimahuLlah, habislah sudah ketiga Abdullah, hamba  Allah yang disebut-sebut sebagai ‘Penyangga Tanah Jawa’ itu. Mereka diambil oleh Kekasih mereka berserta ilmu-ilmu  dan akhlak mereka.  Mudah-mudahan ini bukan pertanda Allah membiarkan negeri ini menjadi semakin terpuruk dengan banyaknya umara dan ulama suu’. Tapi  semoga justru  Allah akan menolong negeri dan bangsa ini dengan memunculkan lagi hamba-hamba teladan seperti  3 kiai Abdullah itu;  seperti pepatah harapan: Gugur  satu tumbuh seribu. Semoga.

Jawa Pos hari Jum'at, 2 Maret 2012, halaman 1-2:Jawa Pos hari Jum'at, 2 Maret 2012, halaman 1-2:
Read more

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei