ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

20 Feb 2012

Sin Not The Sinner!

Entah kenapa belakangan ini saya merasa begitu sulit meneteskan air mata ketika merenungi jiwa. Apa karena hati ini telah dan sedang mengeras karena berbagai permasalahan rumit yang sedang terjadi di sekeliling saya, hingga menyita perhatian dan kesadaran pikiran & secara tidak sadar membuat saya melupakan ajaran yang saya yakini? apakah karena kebencian perlahan sedang tumbuh di dalam dada, bahwkan walau objek kebencian itu adalah kezaliman? apakah saya sebagai manusia tidak dibenarkan membenci kezaliman? ataukah saya salah mengidentifikasi kezaliman, menganggapnya sama dengan pendzalim? 

Dalam kehidupan ini, setiap orang termasuk saya menginginkan kesempurnaan. tapi mungkin kesempurnaan yang saya inginkan berbeda dengan kesempurnaan yang orang lain inginkan. Walau menginginkan kesempurnaan, saya sendiri meyakini  tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini. Saya menyadari hal itu, karenanya ketika saya menginginkan kesempurnaan maka sebenarnya kesempurnaan yang saya inginkan adalah keinginan untuk bisa sedekat mungkin dengan Yang Maha Sempurna. Bagi anda mungkin keinginan ini terkesan naif, terlebih lagi jika dikaitkan dengan pernyataan "Hanya Nabi & Rasulnya saja yang bisa sempurna dalam mendekati Tuhan". Akan tetapi bagi saya kesempurnaan bukanlah suatu hal yang tidak mungkin diraih, dan pernyataan tadi seolah meremehkan Kemampuan dan "Keinginan" (mungkin lebih tepat jika disebut Kehendak) Tuhan agar semua makhluk ciptaanNya berkehendak mendekatiNya. Sudah sepantasnya setiap manusia di bumi ini memiliki potensi untuk mendekatiNya; mendekati KeMahaSempurnaan.

Setiap kesempurnaan membutuhkan kesucian dan setiap kesucian membutuhkan upaya untuk terbebas dari dosa; segala sesuatu yang menjauhkan manusia dariNya. Dalam keinginan menghilangkan dosa ini, saya seringkali terjebak untuk menghakimi pendosa--baik dosa sendiri maupun orang lain--melebihi batas hak saya. Kalau sudah demikian, saya seringkali menasihati diri sendiri dengan kata-kata sederhana namun mendalam Mahatma Gandhi, "Sin, not the sinner". Yang seharusnya saya buru sebenarnya adalah dosa, bukan si pendosanya. Mungkin boleh saja saya menghakimi pendosa selama sesuai dengan "aturan main"nya. akan tetapi saya kira bukan itu yang Tuhan saya inginkan. Saya merasa Tuhan saya lebih menginginkan saya memaafkan si pendosa dibanding menghakiminya. karena jika motivasi saya adalah kebenaran, kesucian dan nilai-nilai kesempurnaan lainnya, maka tujuan saya seharusnya adalah menghilangkan dosa dan bukan menghakimi si pendosa. Saya takut saya sedang dirasuk kebencian terhadap, yang walau dalam benak saya ia merupakan, seorang tiran bertopeng Muslim. Saya ingin seperti Gandhi, Muhammad atau Isa yang tak membenci seseorang karena dosanya. Namun keinginan ini tidak dibarengi dengan tekad yang kuat sehingga terasa begitu berat. Lemahnya jiwa ini membuat saya hampir tanpa daya yang berarti. saya merasa begitu jauh dan kehilangan komunikasi dengan Yang Maha Kuasa seperti seseorang yang terjatuh lunglai di bawah terik matahari di antara luasnya hamparan padang pasir, mencari oase pemenuh asa. 

19.10.2010

2 comments:

  1. Setiap orang pasti mengalami masa ketika "di bawah", yakinlah suatu saat nanti akan mendapat giliran "di atas".

    ReplyDelete

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei