ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

9 Sep 2010

Satu lagi Fenomena Aneh di Dunia

Di dunia ini ada banyak fenomena aneh yang sulit untuk saya mengerti. Sebagiannya mungkin pernah dilihat atau dirasakan oleh anda juga, baik disadari ataupun tidak. Mata saya sudah terlalu sering melihat banyak sekali fenomena aneh. Bahkan mungkin bukan hanya melihatnya, tetapi juga menjadi pelaku keanehan tersebut. Hanya saja, sekali lagi, seringkali saya tidak menyadarinya.


Malam ini adalah malam lebaran, malam pertama setelah kepergian bulan Ramadhan. Pada malam ini, kita mendengar takbir bergema dimana-mana;  dari speaker-speaker masjid dan mushala, dari mulut saudara, teman, tetangga, para ustad, anak-anak atau mungkin dari mulut kita sendiri. Namun  dari sekian banyaknya takbir yang kita dengar, belum tentu kita merasakan gaungnya di dalam hati kita. Iya? Aneh kan? Bagi saya, iya. Ini aneh.

Malam ini adalah salah satu malam teraneh di dunia, dan besok adalah awal satu hari penuh keanehan terjadi. Keanehan yang mungkin terjadi setiap tahun, setiap Bulan Ramadhan selesai, setiap Hari Idul Fitri. Malam ini saya baru benar-benar menyadarinya setelah mungkin ribuan kali "diceramahi" tentang makna makna puasa, baik itu di kelas kuliah, seminar , kajian atau oleh diri saya sendiri. Tidak perlu konsep-konsep filosofis yang rumit untuk bisa memahami hal ini. Kita hanya perlu keinginan untuk meluangkan waktu  merenungkannya.

Kita mengetahui puasa adalah ibadah melawan hawa nafsu. Tapi kenapa menjelang idul Fitri justru nafsu semakin terlihat, setidaknya oleh saya, semakin menjadi-jadi? Kenapa menjelang Idul Fitri, banyak manusia seolah memperlihatkan bahwa puasa yang dilakukan selama ini hanyalah sebatas menahan lapar dan haus saja? Kenapa menjelang Idul Fitri, kita terlihat seperti sekawanan babi lapar yang siap memasukkan berton-ton makanan sebagai bentuk balas dendam puasa? Bukankah seharusnya puasa melatih kita mengendalikan hawa nafsu, tetapi kenapa segala bentuk hawa nafsu justru semakin terlihat jelas menjelang Idul Fitri tiba? Kita bisa ambil beberapa contoh. Misalnya,  fenomena belanja barang yang tidak diperlukan, menghambur-hamburkan uang dengan hal-hal tak berguna,  atau hidup berfoya-foya. Semua itu, apakah hasil dari menahan hawa nafsu di Bulan Ramadhan? Entah kenapa saya merasa seperti pendendam buruk yang hendak melampiaskan nafsunya. Speaker-speaker masjid dan mushalla meneriakkan kata Allahu Akbar, sementara ego kita beramai-ramai berteriak NAFSAHU AKBAR! Nafsulah yang Mahabesar.

Salah satu pertanyaan yang sering muncul di kepala saya adalah, apakah kebanyakan dari manusia tidak menyadari bahwa banyak orang menderita di sekelilingnya? Jika memang menyadarinya, lalu kenapa banyak orang yang menghambur-hamburkan uang dengan hal-hal tak berguna, berfoya-foya dengan dalih menyenangkan keluarga? Kita melihat baju, celana, jam tangan, sepatu, atau barang-barang lainnya seperti anak kecil yang menginginkan mainan, padahal di dalam lemari  masih tertumpuk barang-barang kita yang mungkin baru dipakai satu-dua kali. saja. Aduh! Celakah kita! Apakah manusia sudah tidak tertarik lagi menukarkan uangnya, yang sebenarnya bukan miliknya, dengan pertolongan dan kasih sayang Tuhan? Apakah? Kawan?

Saya sama sekali tidak mempermasalahkan kalau ada orang yang  mau membeli barang-barang baru. Saya tidak secemburu itu. Tidak. Saya cukup puas dengan apa yang saya punya. Lagipula  permasalahannya bukanlah belanja atau tidak, tapi sejauh mana barang-barang di daftar panjang belanja kita mempunyai nilai guna bagi kita, ataukah semua itu hanya sebatas gaya/ Sebenarnya saya hanya terlampau penasaran ingin mengetahui apakah mayoritas kita tidak pernah menengok saudara-saudara kita yang tidak seberuntung kita di lingkungan sekitar, di pinggir-pinggir jalan, di bawah kolong jembatan atau dimanapun mereka berada? Apakah kita tidak sadar banyak orang yang sedang  menderita dan semakin menderita melihat kemewahan yang kita tunjukkan? Jeritan hati mereka semakin kencang melihat anak-anaknya berhari-hari tak makan sesuap nasi pun, sementara mereka melihat kita menghambur-hamburkan uang di depan mereka.

Saya tidak perlu menggambarkan betapa banyaknya ragam penderitaan di sekeliling kita. Karena sudah lama  dan banyak media menggambarkannya. Atau bahkan mungkin kita sudah terlalu sering menyaksikan penderitaan itu langsung dengan mata kepala kita sendiri, sampai-sampai kita merasa bosan melihatnya dan merasa semua keanehan ini sebagai sesuatu yang biasa. Maka tidaklah aneh jika kepekaan & kepedulian kita tlah hilang!
Begitulah, Tak sadar kita telah melakukan sebuah KEANEHAN!
Semakin kita tahu penderitaan mereka, semakin kita mengabaikannya.
Semakin sering kita mendengar jerit tangis mereka,semakin sering pula kita berpura-pura tidak mendengarnya.
Kenapa?
Ah, siapa yang peduli? Saya tak tahu dan tak mau tahu.
Itu jawaban kita kan???
Mungkin mulut kita tak pernah berkata seperti itu. Tapi tak sadar prilaku kita tlah "mengatakannya".
Inilah keanehan sebenarnya... Bukan keanehan karena seseorang bermata satu, berkaki tiga, atau berpostur demikian tinggi. Inilah keanehan yang sering kita rasakan namun sering pula kita abaikan. Keanehan dimana hal-hal paradoks bertemu. Sang Raja Pemilik bulan Ramadhan meminta kita berpuasa, tapi entah kenapa tingkat produksi justru meningkat. Bahkan lebih aneh lagi, ada pula orang yang meng"amin"i nya sebagai berkat. Tidak sadarkah bahwa tingkat konsumtivitas masyarakat meningkat di bulan Ramadhan adalah sebuah keanehan? Bulan Ramadhan mengajarkan kita mengendalikan hawa nafsu. Tapi kenapa sebulan penuh berpuasa, sama sekali tak ada perubahan pada jiwa? Bukan kesederhanaan yang tampak, justru kemewahan semakin bergejolak.
Apakah ini tanda puasa kita gagal??
Maaf harus mengatakannya, tapi saya pikir, IYA! Sebulan kemarin kita sama sekali tidak berpuasa. Kita hanya menyiksa diri dengan menahan lapar & dahaga.
Sudahlah, Kawan.. Lebih baik kita jangan mengaku-ngaku puasa jika masih berfoya-foya dan menghamburkan-hamburkan uang. Karena puasa tak pernah mengajarkan itu. Saya pikir sudah saatnya Idul Fitri tahun ini dijadikan momentum untuk merubah diri agar melahirkan perubahan sosial. Mari kita rayakan lebaran tahun ini dengan penuh kesederhanaan.

~ ~ ~ ~ ~
Noi Butthei. Catatan Harian Idul Fitri 1429H, tahun 2008.

No comments:

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei