ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

27 Aug 2010

Belajar dari yang muda

Bismillah : Dengan menyebut Nama Tuhan / In The Name of The God
      Ba  : Dengan / By
      Ism : Nama / Name
     Allah : Allah / Allah (The God)
Ar-Rahman : Mahapengasih / The Most Compassionate
Ar-Rahiim : Mahapenyayang / The Most Merciful

Bismillahir Rahmanir Rahiim.
Ada sebuah hadits dari Imam Ja’far Shadiq as yang menarik perhatian saya. “there are three things which can strengthen memory, Read Al-Qur’an, wearing siwak and fasting”. Teks asli hadits itu tentunya berbahasa arab. Seperti yang anda juga tahu, itu terjemahan bahasa inggrisnya. saya membaca hadits itu di salah satu spanduk untuk menyambut bulan Ramadhan di kampus saya. Hadits itu menarik perhatian saya karena seingat saya, saya memiliki daya ingat yang lemah. Bahkan saat menulis ini pun, saya sedang mengingat-ngigat apa benar saya memang memiliki daya ingat lemah, karena pada beberapa kenangan, saya hampir dapat mengingat suatu kejadian bahkan hingga ke detailnya.

Setelah membaca hadits itu, saya berniat untuk rutin membaca Al-Qur’an. Bukan agar daya ingat saya menguat (saja), tapi karena sebenarnya jauh hari sebelum saya membaca hadits itu, saya ingin merasakan apa kenikmatan yang dikabarkan oleh para sufi agung ketika tenggelam di dalam lautan makna Al-Qur’an. Sudah terlalu sering saya mendengar kabar tentang betapa dalamnya pengetahuan dan hikmah yang dikandung Al-Qur’an, dan sudah terlalu sering pula saya mengabaikan kitab suci saya itu. Betapa jarangnya saya membaca Al-Qur’an secara perlahan, meniliti kata per kata, dan meresapi makna per makna yang dikandungnya. Padahal saya terlahir sebagai muslim dan memang dikemudian hari ketika beranjak dewasa, saya tlah memutuskan untuk menjadikan Islam sebagai agama saya—alat untuk berkomunikasi dengan Puncak Ketenangan dan Kedamaian, yakni Tuhan. Walau saya juga senang mempelajari agama lain. Bukan untuk mencari-cari kesalahannya, tapi justru untuk membantu saya meningkatkan pemahaman saya terhadap agama saya sendiri. Bagi sebagian orang mungkin terdengar aneh dan mustahil. Tapi sayangnya saya mengalaminya; sedikit pemahaman saya terhadap agama lain telah membantu saya menjelaskan dan menguraikan apa yang saya pahami dalam agama saya, bahkan membantu saya menjiwai agama Islam yang saya anut itu.

Biasanya adik-adik saya membaca Al-Qur’an surat 55 (Ar-Rahman) dan surat 36 (Yaasiin) di hampir setiap pagi di bulan Ramadhan ini. Saya yakin disiplin seperti itu terbentuk karena ada ayah saya yang menemani mereka. Dan benar saja, di suatu waktu ayah saya harus keluar kota, mereka pun mulai malas-malasan membaca Al-Qur’an. Itu terjadi di hari ini, ketika ayah saya sedang menjadi narasumber di sebuah acara pelatihan Quranic Power di Jambi.

Sebenarnya saya merasa disiplin yang diterapkan oleh ayah saya itu bukanlah disiplin yang islami, karena "kedisiplinan Islami" harus didasarkan kesadaran bukan berdasarkan sistem yang dibentuk Saya lebih senang jika adik-adik saya menkmati apa yang mereka lakukan. Tapi walau demikian, seringkali kebiasaan dan disiplin seperti itu juga dapat menjadi alat untuk mencapai kesadaran dimana kebaikan yang kita lakukan didorong oleh nilai kebaikan itu sendiri, bukan karena takut neraka atau mengharapkan surga. Terlebih lagi adik-adik saya ini masih belia. Anak seumur mereka sulit membentuk kebiasaan positif sendiri. Jika tidak ada yang mendidik mereka, kecenderungan untuk memenuhi keinginan hawa nafsu akan semakin menguat hingga akan membuat mereka mengikuti alur permainan hawa nafsu. Maka mau tidak mau saya mencoba membantu mendidik mereka dan menerapkan satu kebiasaan positif, yang sebenarnya tidak saya dapatkan saat saya seumur mereka.

Lagipula membaca Al-Qur’an berarti—setidaknya—mengurangi waktu Hasan sms-an, memberikan Haidar aktivitas agar tidak malas-malasan di kasur dan menyita waktu Husein agar tidak mengganggu adiknya, Hamzah. Setidaknya mereka belajar sesuatu untuk bekal masa depan mereka. Sesuatu yang bukan bersifat materi, tapi suatu pelajaran--untuk masa depan--yang bersifat bathini—spiritual.

Pagi ini saya menggantikan ayah saya untuk menemani mereka membaca dan menghapalkan beberapa ayat Al-Qur’an. Adik-adik saya membaca beberapa ayat dengan cepat sama seperti cara membaca saya waktu masih seumur mereka. Entah mereka bisa menikmati bacaannya itu atau tidak karena saya sulit untuk bisa menikmati bacaan Al-Quran jika dibaca terlalu cepat. Setelah mereka selesai membaca dua surat tadi (surat 55 & 36) dan saya selesai membaca surat 24, saya meminta mereka untuk menerjemahkan ayat yang sedang mereka hafalkan atas perintah ayah saya : ayat 51 surat 9 (Al-Bara’ah) dan ayat 107 surat 10 (Yunus). Mereka yang tengah menjadi santri Gontor tentunya lebih mengerti bahasa arab dibanding saya yang belajar bukan di pesantren. Akan tetapi kali ini saya berpura-pura menjadi guru yang sedang menguji muridnya, padahal justru saya yang sedang belajar dari mereka.

Saat menerjemahkan, ada kata-kata yang mereka tidak ketahui. Lalu saya ke kamar saya untuk mengambil Kamus Al-Qur’an karya Hasanain Muhammad Makhluf, yang menurut saya sangat mengecewakan,  dan al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris yg ada di kamar ayah saya, lalu saya berikan kepada mereka. Sementara saya sendiri “mengintip” terjemahan bahasa inggris melalui layar handphone. :D

Setelah selesai dengan ritual itu, mereka pun istirahat. Sedang saya kembali ke kamar, berusaha untuk mengingat apa yang baru saja saya pelajari. Saya pikir akan lebih baik bagi saya jika menuliskannya, siapa tahu di kemudian hari berguna bagi entah siapa. Mungkin bagi saya yang nanti sudah lupa dengan makna-makna ini, atau bagi adik-adik saya, atau mungkin bagi siapa saja yang membaca catatan ini. Ini apa yang saya pelajari hari ini:

               

Saya mencoba menerjemahkan ayat 51 surat 9 (Al-Bara’ah / At-Taubah) tersebut menggunakan kamus Hans Wehr : Arabic-English, dan sebagian lainnya saya coba terjemahkan berdasarkan sedikit kosakata arab yang saya pahami. Semoga tidak menyimpang terlalu jauh.

Saya sengaja menerjemahkan ayat ini kata per kata agar jika nanti saya temukan kata yang sama, saya bisa mengetahui maknanya, atau setidaknya tahu artinya. Menerjemahkan dengan cara seperti itu setidakya membuat saya lebih mengerti dan memahami makna keseluruhan ayat dengan lebih mendalam, walau harus diakui; lebih memakan banyak waktu.

qul : katakanlah / say
lan : tidak akan / never
yushiibanaa : saya baru benar-benar mengetahui kata yang satu ini. Tadinya saya pikir asal katanya shabana. Tapi kemudian saya sadari kata na pada kata ini adalah dhamir (kata ganti) yang berarti kami. Lalu saya mencari kata yashaba
illa : kecuali
maa : apa-apa
kataba : dituliskan. Ada yang berpendapat, “dituliskan” bermakna “ditaqdirkan”.
Allah : Allah.

Huwa : Dia. Di dalam ayat ini, kata huwa berfungsi sebagai kata ganti Allah.
Maulana : maula kami. Maula bermakna Tuhan, Penolong atau Pelindung.

Wa : dan
‘ala : atas
Allahu : Allah
Falyatawakkal : terdiri dari dua bagian. “fa” yang berarti “maka”, dan “yatawakkal” yang berasal kata “wakala”. Tadinya saya pikir kata “yatawakkal” ini berasal dari kata “tawakkal” karena saya merasa sudah familiar dengan kata tawakkal. Ternyata setelah mencarinya di dalam kamus Hans Wehr sampai kelelahan dan ketiduran (ini serius), saya baru menemukan kata “tawakkal” adalah turunan kata dari kata “wakala” (wau, qaf, lam) atau “yakilu” (fi’il mudhore) yang berati “to entrust” atau “mempercayakan sesuatu kepada…”. Sedangkan kata “tawakkal” sendiri, di dalam kamus itu, sepertinya sering disandingkan dengan kata “’ala” yang berarti “above” kalau diartikan secara terpisah, tapi berarti “in” ketika disandingkan dengan kata tawakkal. Karena sebelum kata “falyatawakkal” ini terdapat kata “alallah” (atas Allah), berarti kata “tawakkal” di dalam kalimat ini mungkin lebih tepat diartikan “to trust in God” atau “put o.s. in God’s hand” atau “percaya sepenuh hati kepada Tuhan”.

Al-Mu’minun : Orang-orang yang beriman. kata yang satu ini sudah sering aku dengar, dan kebanyakan ulama memang mengartikannya sebagai “orang-orang yang beriman”. Tapi saya ingin tahu makna asal kata al-mu’minun ini dengan melihatnya sendiri di kamus. Setelah aku cari, ternyata asal katanya adalah “amuna” (alif, mim, nun). Lalu aku buka kata “amuna” dan aku temukan kata tersebut berarti “to be faithful, reliable atau trustworthy” (mengimani, dapat dipercaya/diandalkan, & dapat dipercaya). Al-Mu’minun dalam bahasa arab adalah bentuk isim masdar (subjek pelaku pekerjaan) dari kata “amuna”. Berarti memang benar kata al-mu’minun berarti orang-orang yang mengimani atau dengan kata lain “orang-orang yang beriman”. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah tidak ada satu makna pun yang mengarahkan makna keimanan dalam kata ini ke suatu yang bersifat islami. Artinya, “al-Mu’minun” tidaklah harus bermakna orang-orang yang mengimani Tuhan sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang Islam. Saya bisa menyebut orang-orang yang mengimani adanya Realitas Teragung dan Tersempurna, yang biasa saya sebut dengan Tuhan, dengan sebutan al-Mu’minun tanpa harus melihat apa agamanya. Bahkan walau kata ini disebutkan di dalam kitab suci umat Islam sekalipun, Al-Quran, itu tidak bisa dijadikan argumentasi bahwa hanya umat Islam yang meyakini Tuhan saja yang pantas disebut beriman.

Setelah menerjemahkan ayat 51 surat 11 itu secara kata per kata, disini saya tuliskan terjemahan versi Depag (Departemen Agama) yang menurut pemahaman saya yang terbatas, sayang kurang tepat. Kata “harus” pada terjemahan ini seperti makna yang dipaksakan hadir. Padahal tawakkal menurut saya adalah sesuatu yang berdasarkan kesadaran dan bukan paksaan. Saya juga kurang sreg dengan kata “Maula” yang diterjemahkan sebagai “pelindung”, karena sebagaimana saya tulis di atas, kata Maula memiliki makna yang lebih dari sekedar pelindung. Karena itu, saya pribadi lebih sreg membiarkan kata Maula tanpa diterjemahkan. Toh kata Maula sudah menjadi kata serapan di dalam bahasa Indonesia. Berikut terjemahan versi depag, versi m. Mohsin Khan dan versi saya sendiri untuk ayat ini: 

*Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang Telah ditetapkan Allah untuk kami. dialah pelindung kami, dan Hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal."
(terjemahan software Al-Qur’an in word v.1.0, yang sepertinya menggunakan terjemahan Departemen Agama)

*Say, “Nothing shall ever happen to us except what Allah has ordained for us. He is our Maula (Lord, Helper and Protector).” And in Allah let the believers put their trust.
(English Translation by M. Mohsin Khan @ software handphone: Quran Reader Basic v5.00)

Katakanlah,
“Tiada satu pun akan terjadi
Menimpa diri kami kecuali,
Apa yang telah Allah taqdirkan untuk kami.
Dialah Maula kami,
Dan hanya kepada Allah lah orang-orang beriman,
Bertawakkal”

[noi butthei
@KotaBambuUtara, 27.08.2010]




No comments:

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei