ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

12 Aug 2010

Sesulit Orang Kaya Belajar Hidup Sederhana

Sekitar pukul 5 sore
Tiba-tiba muncul satu pertanyaan di benak saya; apa saya termasuk orang yang suka menangis? Pertanyaan ini mendadak muncul karena dalam kondisi tertentu saya mudah sekali menangis. Seringkali saya merasakan kenikmatan tersendiri dalam sebuah tangisan.


Sore hari ini saya mengisi hari dengan tangisan. Benar-benar tangisan saja. Menangis, sejadi-jadinya. Jarang sekali saya berhasil menangis. Karena saya sering berada di luar rumah; tempat yang tidak nyaman untuk menangis. Seringkali saya mengharapkan suasana dimana saya bisa bebas menangis. Menangis mengadukan kelemahan saya kepadaNya. Dan sore hingga malam tadi, saya benar-benar mencurahkan tangisan kepadaNya. Beruntung bulan ini bulan Ramadhan. Bulan dimana tangisan dan rintihan benar-benar dihargai. Saya bisa menangis sepuas-puasnya.
Menangis, sebenarnya, bukan keistimewaan bulan Ramadhan. Tapi menangis di bulan ini membawa kenikmatan tersendiri bagi saya. Saya ingin menyambut Tuhan di bulan ini. Bukan sekedar menyambutnya, saya juga ingin menyenangkanNya. Di kamar kecil dimana buku-buku, kertas-kertas, kabel dan banyak sampah mesin komputer berserakan, saya belajar memberikan waktu untuk melayaninya. melayani, satu kata yang sering ditafsirkan berbeda-beda.

17.31-17.32
saat saya menulis ini, tiba-tiba lampu di rumah saya mati. Saya tengok dari jendela, rumah tetangga pun sepertinya mati. Sempat lampu menyala satu atau dua detik saja. adik saya yang berumur kurang dari tujuh tahun berjalan di remang remang ruang dari kamar ibu--yang juga kamarnya--menuju kamarku yang gelap. "tadi Allah mau nyalain lampu. kan puasa, masa gelap gelapan", katanya. aku tanya adikku itu, "memang kenapa kalau gelap gelapan?"  dia bilang "gapapa", lalu mengulang kata kata yang sama "tapi kan puasa, masa gelap gelapan". saya tertawa. senang dan merasa geli juga lucu dengan jawaban adik saya. Walaupun hidup saya biasa-biasa saja, saya punya adik yang luar biasa. setidaknya luar biasa bagi saya.

Ba'da Magrib. +18.31
hari ini hari kedua di bulan Ramadhan. saya belum salat magrib. Saya sedang gelap gelapan di dalam kamar. Jendela kamar saya menghadap ke arah monumen nasional. Kalau ada cahaya pesta kembang api di monas, biasanya saya dan azizah suka berdiri di tempat saya berdiri sekarang. kadang ibu saya suka ikut bersama kami berdiri disini. Azizah tak bisa melongok ke jendela. Tingginya belum cukup. Saya suka
menggendongnya. Dan saya senang ketika adik saya itu merayu saya dengan memeluk kaki saya sambil meminta saya menggendongnya. Saya senang bisa dekat denganya. Saya senang berada di dekat kepolosan. Mungkin karena saya merasa saya sudah teracuni dengan hingar bingar kehidupan. Atau mungkin karena saya ingin kembali polos seperti dirinya.

sekitar +19.07
Saya menulis ini di dalam toilet rumah.  Entah kenapa adzan isya tak terdengar di mushala yg jaraknya hanya beberapa rumah dari rumahku. tapi tadi saat saya masih di lantai dua, ada suara azan terdengar samar dari entah masjid mana yang tak terkena pemadaman lampu.

+19.32
Saya sudah tak di toilet lagi. Saya sudah di atas, di dalam kamar saya.
Saya juga sudah wudhu tapi belum salat. saat saya di toilet tadi
setidaknya ada tiga hal yang tiba tiba merasuk pikiran saya dan memaksa saya untuk merenunginya. Pertama, tentang dunia dan kotoran. Kedua, tentang betapa cengengnya saya. Dan ketiga, tentang salat tepat waktu.

Sebentar, tadi, untuk wilayah rumah saya dan sekitarnya sedang mati listrik. Lampu-lampu mati. Malam yang gelap terasa bertambah gelap. Tentunya toilet rumah saya juga dalam kondisi gelap. Saya membawa handphone yg kebetulan terdapat senter dan aplikasi quickoffice nya. kembali listrik kembali normal sekitar pukul 19.40an. "Tuhan memang mau nyalain lampu.
Puasa kok gelap-gelapan" , mungkin adikku berpikir begitu lagi.

kembali ke apa yang saya pikirkan ketika sedang berada di toilet tadi.
Jadi begini, saat di toilet tadi saya merasa benar-benar menyadari bahwa kotoran yang saya buang itu adalah hasil yang saya makan. baru saja magrib tadi saya memakan sesuatu, saat isya sudah saya buang di toilet.
Seenak apapun makanan yang saya makan, jadinya cuma kotoran. Ya, mungkin sedikit daging juga tenaga. Saat berbuka puasa tadi, saya merasa aneh dengan jenis makanan yang akan makan; beberapa daging rendang dan ati. Saya pikir tak seharusnya orang yang berpuasa makan senikmat ini. bagi saya, ujian puasa sebenarnya tak berakhir saat magrib tiba. Justru saat azan magrib terdengar dimana-mana, ujian terberat
datang. Mampukah saya mengontrol apa yang akan saya makan. Atau saya akan memakan sebanyak-banyaknya. membalaskan dendam sepanjang hari karena puasa. lalu saya ke
kamar ibu saya. Biasanya saya makan disana. Disana ada adik saya, Haidar.
Ia Sedang duduk. Duduk saja. Makanannya tidak segera dimakan.
"Kenapa?" tanya saya.
"Bosen". Jawabnya.
Hasan menimpali, "iya, lebih enak makan sayur kangkung. atau tempe plus sambel sudah nikmat."
Saya diam. kamar ibu saya saat itu masih gelap. Hanya ada cahaya lilin.
Ibu saya dan Azizah masih di bawah. Saya tatap Hasan dan Haidar. Mata mereka samar terlihat
Haidar sedang melihat saya. Saya senang ia memperhatikan kakaknya, menunggu kakaknya akan berkata apa. Saya bilang kepada mereka bahwa makanan berbuka puasa memang tak seharusnya seperti ini.
Harusnya makanan yang kita makan lebih sederhana. ada yang salah dengan makanan ini. tapi sekarang syukuri makanan yang ada. diluar sana banyak orang yang menangis melihat anak-anaknya
kelaparan. Kita masih bisa makan. Walau mungkin tak sesuai selera, makanlah". Saya meminta Haidar  untuk makan. Duduknya lalu menegak. Ia siap-siap makan.

Saya bersyukur bisa hidup biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa dari segi kekayaan materi. Saya senang melihat orang yang berprilaku sederhana dan saya ingin belajar mencontoh mereka. saya merasakan
kedamaian pada orang-orang tertentu yang merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Tadi saya makan cukup enak, mungkin termasuk kategori sangat enak bagi kebanyakan orang miskin. Tapi keluarga saya juga bukan keluarga kaya. Makanan enak yang saya makan hari ini pun karena ayah saya memaksakan diri supaya anak-anaknya makanan enak.  Walau ayah saya tak pernah bilang, saya tahu ayah saya ingin menyenangkan anak-anaknya. Ia sengaja meminta ibu saya untuk memasak masakan yang enak. padahal kami sendiri tak memintanya, bahkan memang tak menginginkannya. Itu alasan saya mencintai ayah dan ibu saya. Mungkin alasan ini juga anda rasakan. Cinta seorang ayah yang begitu besar untuk keluarganya. Ayah saya telah begitu menderita untuk kami. Tapi seringkali cara-caranya tak saya suka. Misalnya, cara ia bertanya kepada adik-adi saya. Ini berkaitan dengan hal kedua yang saya pikirkan saat saya di toilet tadi: saya pikir
saya terlalu cengeng.

Saya mau salat dulu. Mungkin tengah malam nanti saya coba lanjutkan lagi.

UPDATE | Rabu dini hari,  29.02.2012
tulisan ini tidak segera saya lanjutkan pada tengah malam itu. ada beberapa kelanjutan ceritera yang saat ini masih saya ingat, tapi saat ini saya sedang malas untuk berceritera panjang lebar. kalau di lain waktu nanti saya masih tetap ingat ceritanya, mungkin nanti akan saya coba lanjutkan. tapi kalau nanti pun saya masih malas melanjutkan ceritanya, mungkin ceritera ini memang tidak akan pernah saya lanjutkan.:D

2 comments:

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei