ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

12 Mar 2009

Ku merinduNya

Kelas sore itu ditiadakan. Entah apa alasannya. Ia pulang, beristirahat sejenak, bersih-bersih tubuh, mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk Do’a malam itu. Ia ingin mengadu kepadaNYA.
"Aku harus “datang” dengan sebaik mungkin, serapi dan sesuci mungkin.", begitu pikirnya

Sore itu, motor tak ada. Ia putuskan, jika sampai adzan Magrib ayahnya belum pulang, ia akan naik bis 102 saja..

.

Matahari terbenam, Magrib datang, kebetulan ayahnya pulang. Tapi sayang, ternyata STNK motor sedang diperpanjang. Jam 18:27. Mungkin sudah terlambat untuk mengikuti Do’a Kumail di kediaman Sayyed Faris. Ayahnya menasehati,
"tak bisakah datang ke acara (apapun itu) dengan tepat waktu...Acaranya dimulai habis magrib, dari sini baru berangkat pas Magrib. Udah, minggu depan aja.."

"Aku sudah dua minggu gak ikut kumail-an, bi.."

"Kalau gak mungkin, ya mau gimana lagi..udah minggu depan juga kan bisa.."

.

….
Dalam hati ia mengadu...

Kenapa?
Kenapa kau tak mengerti..
Seharusnya kau lebih mengerti hal ini daripadaku yang baru belajar..
Kau yang lebih dulu mengenalNya, tapi mengapa kau berkata seperti itu. Tak tahukah kau, duhai yang terima-kasihku untukmu, bahwa aku juga merinduNya. ku ingin merintih, mengadu, memelukNya. Ku ingin dan rindu didekapNya. Karena itu aku harus datang malam ini. Atau aku akan tersiksa lebih lama lagi di dalam kerinduan.

….

Ia pamit. Mengambil buku doa kumail berukuran mini yang bisa dimasukkan ke dalam saku bajunya. Berjalan di tengah gelap Magrib. Ya, ia memang tak akan bisa “mengejar” pembacaan Do’a kumail di Sayeed Faris, tapi ia butuh tempat untuk menyendiri. Tak mungkin ia membacanya di rumah. Terlalu ramai. Ia berjalan beberapa lama dan akhirnya terhenti di Masjid Al-Barakah, masjid bertingkat dua yang lama tak kukunjunginya sejak enam tahun lalu. Ia melihat dan mendengar puluhan orang sedang membaca Surat Yasin dan kemudian melafalkan wirid-wirid. Ia bersembunyi di atas, sendiri di lantai dua. Bercengkrama denganNya.

.

saat pulang dari masjid al-baraqah, diturunan jalan. Ia melihat bulan purnama. Ia teringat saat browsing internet kemarin, kalender menunjukkan tanggal 14 Rabi’u Awal. Pantas saja sekarang bulan berbentuk sempurna. Terima-kasih Tuhan, atas "keindahan" malam ini.
-----*****----
12 Maret 2009
saat ketenangan menghampiri malamnya

No comments:

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei