ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

30 Mar 2009

Teruntuk Dua Kawanku,

1 komentar

Teruntuk dua orang kawanku,

Yang telah kehilangan ayahandanya tercinta,

Di hari yang bersamaan,

Pada hari senin kelabu di minggu penuh duka

Cakra, kawanku dari SMUTHER-12

Dan Abar, kawanku di kampus ICAS-06

Teruntuk kalian yang telah kehilangan ayahanda tercinta,

“Hatiku turut berduka..”

-----*****----

Berkata beberapa orang kawan kepadaku,

“Semoga arwahnya diterima di sisiNYA..”

Berkata diriku kepada mereka,

“Bahwa setiap jiwa akan kembali kepadanya..”

Yakinilah itu, kawan!

Setiap manusia pasti diterima disisiNYA, tak mungkin tidak!

Karena IA yang penuh kasih sayang ibarat air samudera yang menerima setiap aliran sungai…

Bersih atau kotor, jernih atau keruh, tercemar atau tidak, semua sungai pasti akan mengalir ke lautan samudera yang luas…

Dan saat itu terjadi, semua air menyatu dengan air samudera,

Tak ada kotor, keruh, atau tercemar lagi.

Semua melebur dengan kesucian,

menjadi bersih, jernih dan suci…kembali

Aku berkata seperti ini sebagai seorang kawan yang berempati kepada kalian.

Mungkin jika aku berada di posisi kalian, aku akan menangis tersedu meratapi nasib..

Dan emosi menguasai jiwaku..jika nanti itu terjadi padaku, tolong ingatkan diriku…

tentang apa yang telah ku katakan pada kalian...

.

Kini, walau tak mungkin sama, tapi ku coba resapi setiap duka yang kalian rasakan…

Bahwa kenangan dan memori kebersamaan bersama ayahanda tercinta sulit untuk dilupakan..

Menangislah, untuk setiap kenangan dan didikan yang telah ia goreskan pada kehidupan kalian…....hingga kalian tumbuh dewasa seperti sekarang…

Tapi pada saat yang sama, tertawa-bahagialah wahai kawan-kawanku,

karena kini Ayahanda kalian telah bertemu dengan Sang Kekasih Yang Penuh Welas Asih.…


Innalillahi wa inna ilaihi rajiiun…


Sungguh, Setiap “tetes air” yang berasal dariNYA, akan mengalir dan menyatu kembali kepadaNya.

-----*****----

Beberapa saat setelah kabar duka itu sampai kepadaku..

Senin, 30 Maret 2009


*Mohon maaf karena belum sempat menemui kalian..




Read more

22 Mar 2009

maaf

0 komentar
maaf untuk luka itu. ku tak sengaja. sama sekali tak.
sebenarnya tadi aku hanya becanda. aku tak serius berkata seperti itu. tapi rupanya kau malah marah dan terluka. ah, sungguh aku minta maaf! aku benar-benar tak berniat menyakitimu. bagaimana mungkin aku sengaja membuatmu terluka, sementara lukamu adalah lukaku juga.


Read more

18 Mar 2009

The Flowing of God’s Manifestation

1 komentar
Saat permasalahan ini datang bertubi-tubi, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Bahwa semua ini hanyalah The Flowing of God’s Manifestation. Semua ini hanyalah manifestasi dari Nama-Nama Tuhan. Kesedihanku, masalah-masalahku, penderitaan adik-adikku, penyakit yang menimpa keluargaku, kesabaran adik-adikku, ketegaran mereka, kerinduanku kepadanya yang kusayang, tangisannya, derita palestina, kawanku yang "terbuang", tentang dia yang salah paham, dia yang menderita, dia yang kucinta, dia yang ku kawatirkan, tentang semuanya. Semua ini, tanpa satu pun terlewat, hanyalah bagian dari manifestasiNYA. Lalu mengapa aku harus terus bersedih dengan semua kejadian ini. Aku tak punya alasan untuk bersedih untuk hal-hal seperti itu. Aku harus menikmatinya. dan seketika itu pula aku tenang. tak ada lagi yang aku khawatirkan. satu-satunya yang aku khawatirkan saat ini adalah aku takut lupa atau tak sadari hal ini lagi. Aku takut aku lupa bahwa aku ini bukan siapa-siapa, dan juga bukan apa-apa.
-----*****----
14 Maret 2009
di tengah malam yang sunyi


Read more

rindu

0 komentar
Lagi-lagi hujan.
Kali ini deras, tak seperti kemarin sore.
Sendiri ku berkata dalam imaji..

"
Duduk duduk kawan
Kosongkan pikiran
Izinkan semua hal melewati gudang pikiran
Melemah syahwat sang pengguyur hujan
Menari-nari dedaunan di pinggir jalan
Ku Ingin dihampiri olehmu kawan
"
-----*****----
13 Januari 2009
saat duduk bersembunyi dari serangan deras hujan,
di antara dan di bawah dedaunan rindang di seberang JCC
Read more

13 Mar 2009

selamat malam ya aa

1 komentar
Setelah sekian malam menanti, akhirnya saat itu datang juga. Saat dimana kau mengucapkan kata yang ingin kudengar tanpa memintanya. aku harap itu tulus darimu. Sudah puluhan malam berlalu saat awal rasa itu tiba, dimana aku berusaha menyelimuti dirimu dengan kehangatan doa; aku ingin malammu indah. aku tak ingin kau terganggu dengan pikiran dan perasaan yang tak perlu. hal-hal sederhana seperti ini bisa terasa berarti bagiku, padahal kau hanya mengucapkan satu kalimat biasa..
“slamat malam ya aa”
-----*****----
13 Maret 2009

UPDATE | 29.02.2012
 Seringkali hati yang bercampur gairah berlebihan membuat akal tidak bekerja sebagaimana mestinya. Saat menulis postingan di atas sepertinya saya sedang merasa jatuh cinta. Padahal yang saya rasakan itu bukan benar-benar cinta. entah apa. Mungkin hanya sekedar gairah berlebihan karena terlalu lama jomblo. haha:D

Apa yang saya tuliskan di atas adalah apa yang saya rasakan saat itu. Dan apa yang saya rasakan pada saat itu mungkin sesuatu yang tulus dan tidak dibuat-buat. Ia datang sendiri tanpa saya memintanya. Tapi mungkin saya keliru mengalisa perasaan yang saya alami itu sebagai gejala cinta. Karena cinta bagi seorang pria seharusnya lebih dari sekedar gejolak rasa sesaat ketika melihat gadis manis atau wanita seksi, dan cinta bagi seorang perempuan juga bukan sorak riangnya ketika melihat kecengannnya. Jika dimanusiakan, Cinta itu seperti sikap Muhammad dan Isa kepada ummatnya, seperti Bunda Teressa dan Bunda Fathimah kepada orang-orang yang menderita di sekelilingnya. Cinta sesungguhnya itu tenang dan damai, tidak bergejolak seperti apa yang saya rasakan saat itu.
Read more

ku ingin mengenalmu melalui tulisanmu

0 komentar
Tuliskan apa saja yang muncul di kepala kamu.
Jangan pernah takut tulisanmu buruk.
Justru yang buruk adalah ketika tulisanmu hanya bersemedi di dalam kepalamu. Keluarkanlah semua yang ada di dalam.
Gerakkan semua yang diam.
Muntahkan semua.
Semburkan api mautmu.
Maksudku, kata-katamu itu.
Tolong keluarkan.
Aku ingin mendengarnya.
Aku ingin membacanya.
Aku tak peduli seburuk apapun tulisanmu.
Aku hanya ingin mendengar ekspressi kata-katamu.
Bukan untuk menilaimu,
tapi untuk mengenalmu...
^_^

-----*****----

13 Januari 2009
Dengan penuh keyakinan bahwa tulisanmu bagus, setidaknya tak seburuk tulisanku.
Read more

12 Mar 2009

Ku merinduNya

0 komentar
Kelas sore itu ditiadakan. Entah apa alasannya. Ia pulang, beristirahat sejenak, bersih-bersih tubuh, mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk Do’a malam itu. Ia ingin mengadu kepadaNYA.
"Aku harus “datang” dengan sebaik mungkin, serapi dan sesuci mungkin.", begitu pikirnya

Sore itu, motor tak ada. Ia putuskan, jika sampai adzan Magrib ayahnya belum pulang, ia akan naik bis 102 saja..

.

Matahari terbenam, Magrib datang, kebetulan ayahnya pulang. Tapi sayang, ternyata STNK motor sedang diperpanjang. Jam 18:27. Mungkin sudah terlambat untuk mengikuti Do’a Kumail di kediaman Sayyed Faris. Ayahnya menasehati,
"tak bisakah datang ke acara (apapun itu) dengan tepat waktu...Acaranya dimulai habis magrib, dari sini baru berangkat pas Magrib. Udah, minggu depan aja.."

"Aku sudah dua minggu gak ikut kumail-an, bi.."

"Kalau gak mungkin, ya mau gimana lagi..udah minggu depan juga kan bisa.."

.

….
Dalam hati ia mengadu...

Kenapa?
Kenapa kau tak mengerti..
Seharusnya kau lebih mengerti hal ini daripadaku yang baru belajar..
Kau yang lebih dulu mengenalNya, tapi mengapa kau berkata seperti itu. Tak tahukah kau, duhai yang terima-kasihku untukmu, bahwa aku juga merinduNya. ku ingin merintih, mengadu, memelukNya. Ku ingin dan rindu didekapNya. Karena itu aku harus datang malam ini. Atau aku akan tersiksa lebih lama lagi di dalam kerinduan.

….

Ia pamit. Mengambil buku doa kumail berukuran mini yang bisa dimasukkan ke dalam saku bajunya. Berjalan di tengah gelap Magrib. Ya, ia memang tak akan bisa “mengejar” pembacaan Do’a kumail di Sayeed Faris, tapi ia butuh tempat untuk menyendiri. Tak mungkin ia membacanya di rumah. Terlalu ramai. Ia berjalan beberapa lama dan akhirnya terhenti di Masjid Al-Barakah, masjid bertingkat dua yang lama tak kukunjunginya sejak enam tahun lalu. Ia melihat dan mendengar puluhan orang sedang membaca Surat Yasin dan kemudian melafalkan wirid-wirid. Ia bersembunyi di atas, sendiri di lantai dua. Bercengkrama denganNya.

.

saat pulang dari masjid al-baraqah, diturunan jalan. Ia melihat bulan purnama. Ia teringat saat browsing internet kemarin, kalender menunjukkan tanggal 14 Rabi’u Awal. Pantas saja sekarang bulan berbentuk sempurna. Terima-kasih Tuhan, atas "keindahan" malam ini.
-----*****----
12 Maret 2009
saat ketenangan menghampiri malamnya

Read more

10 Mar 2009

bolos kuliah demi mereka

0 komentar
Monas pagi itu...








Ini foto Azizah saat kami pulang

Read more

9 Mar 2009

Kelahiran “Akibat Pertama”

0 komentar
Nun jauh di sana, di Roma, tatkala hening meranggas di istana yg megah, dan satwa-satwa malam sedang menyelenggarakan konser rutin di semak-semak kebun yang rimbun dan basah, tiba-tiba sang kasiar terjaga dengan wajah kutu bersimbah peluh lalu memanggil-manggil juru takwil mimpi yang tak lagi diingat namanya. Dengan tergopoh-gopoh, sang penakwil berlari menghadap juragannya yang terbujur lunglai di atas ranjangnya. “Hai,” teriaknya membahana. “Dalam tidurku kuliaht kerajaan Romawi tumbang dan istananya runtuh lalu berubah menjadi tumpukan puing yang betapa mengerikan,” tanyanya tersengal-sengal. Penakwil tua itu menundukkan kepala sambil berbisik: “Baginda, telah terlahir bayi di Arabia bernama MUHAMMAD’.

Di lorong Salam yang tenang,

di sepetak bangunan yang remang

di bilik sempit yang temarang,

di kampung Tihamah yang lengang

di jantung Bakkah yang gersang,

di persada Jazirah yang kerontang…

sinar misterius menghunjam persada dan membedah malam pertengahan Rabi’ul awwal,

sebuah jeritan bayi malakuti melambung dan mengoyak angkasa Ummul-Qura

gemerincing lampu-lampu kristal istana Khosro Parwiz mengisyaratkan sebuah peristiwa

…dentang-dentang lonceng raksasa gereja Roma mengumandangkan sebuah warta

…debam-debam gajah-gajah Abrahah yang berjatuhan beradu bagai genderang laga

…kelepak sayap merpati di atas Mekkah yang menari bersusulan laksana rebana pesta

lalu terdengar kumandang …

selamat menggigil, cukong-cukong tamak…

selamat berhamburan, tuhan-tuhan bertulang…

selamat berjatuhan, raja-raja jorok…

selamat ketakutan, seniman-seniman cabul di pasar Ukaz

selamat bangkrut, saudagar-saudagar budak

berpestalah, hai kuli-kuli gratis juragan-juragan Quraisy

bergembiralah, hai kaum buruh di ladang Umayyah

kumandangkan lagu kemerdekaan

gelarlah permadani merah demi menyambut MUHAMMAD!

Mentari menyingsing dan menyongsong,

purnama menyeruak dan menyapa,

gemintang berkilau dan menyambut,

pelangi berhias dan mendaulat

Ka’bah menyala san mengucapkan ’selamat datang’ ’selamat lahir’

kepada debur ombak rabbani yang bergulung menghempas buih syaitani

kepada desah nafas subuh yang berhembus lembut segarkan pori-pori fitrah

kepada rinai-rinai iman yang berguguran membilas sahara Hijaz

kepada sepoi-sepoi sejuk yang meniup pucuk dedaunan korma

kepada simponi tangkai zaitun yang bergesekan laksana biola

kepada mawa api tauhid yang menjilat gelap syirik

kepada untaian syair ilahi yang abadi

kepada rangkaian firman yang suci

kepada penguasa altar malakut yang menghadirkan gelegar dahsyat di lelangit

kepada kuasa Musa,

kasih Yesus,

damai Budha,

hikmah Socrates,

logika Aristo,

ide Plato,

aura Zoroaster

dan wibawa Lao Tse…

kepada pemuka para kohen, santo dan imam

kepada utusan Sang Khuda,

duta Sang Theos,

pewarta Sang Hyang dan Rasul Allah

kepada Sang Rahmat

kepada dia yang bernama MUHAMMAD!

Bertapa dalam gua gelap Tsur

bersemedi dalam lembah Hira

menggigil dalam kesendirian lereng Arafah

menggelinjang dalam asmara Lahut

menggigil dalam pelukan Sang Jalal

mengerang dalam kehangatan Sang Jamal

bergejolak dalam pesta malaikat

menanggalkan busana raga

hilang dalam Ada

kembali memasuki nasut

dilumuri kotoran onta di Haram

dilempar bebatuan bocah-bocah Thaif

bermandikan darah di Uhud

bersenda jenaka di hadapan yatim

menghibur para janda syuhada

berhariraya dengan gelandangan

bergaul dengan kaum cacat dan kusta

bersukacita didatangi tamu tuna netra

berjalan menunduk di keramaian

mencium tangan pekerja kasar

pemaaf kala berkuasa

membantu sebelum diminta

berbalik tubuh bila diseru

menegur tanpa menunggu

bermurah dengan senyum

menggali parit dan sumur

tidur dengan bantal batu

keluar masuk pasar

dan berseru akulah Sang Utusan

akulah MUHAMMAD

Kini lihatlah ia sedang melihat kita dengan mata kecewa

kita yang sedang nongkrong di atas fosil-fosil kebodohan

kita yang asyik harakiri dengan pornografi atas nama seni

kita yang makin trampil menjadi bangsa yang latah

kita yang sakau dengan korupsi dari rt sampai pejabat

kita yang sudah kehilangan etika ketimuran

kita yang menjadi konsumeris dan pemuja raga

kita yang sibuk mempertontonkan lakon anarkisme

kita yang sudah menjadi kue ulangtahun dalam pesta para musuh

kita yang tak lagi bisa hidup rukun dan menghargai perbedaan

kita yang sebenarnya tak mengenal MUHAMMAD



*source: http://muhsinlabib.wordpress.com/2009/03/07/kelahiran-akibat-pertama/

Read more

5 Mar 2009

YES or NO

0 komentar
Di sebuah ATM di daerah Tomang

Mba itu selesai mengambil uangnya. Ia berjalan keluar melewatiku. Sebelum itu, dari kejauahan aku merasa ada yang aneh dengan mesin ATM yang baru saja ia pakai. Hmm... Kenapa layarnya menunjukkan pilihan YES or NO. Padahal biasanya iklan atau promosi agenda BCA.

Aaah..ternyata kartu ATM si mba tadi ketinggalan. Refleks aku langsung tekan NO, mengambil kartu ATM mba tadi dan langsung berlari keluar ruangan mencari mba yang ceroboh itu.

"Mba, mba...kartunya ketinggalan!!"

Mba itu tersenyum malu menyadari keteledorannya. Melihatnya senyumnya itu, aku jadi teringat diriku sendiri....yang juga sering teledor seperti itu.
-----*****----
05 Maret 2009



Read more

4 Mar 2009

azizah adiku, azizah puteriku

2 komentar


"Aa dimana?? Azizah kangen nih.."
-----*****----
suara mungil itu terdengar dari balik telpon, di antara gerung suara motor di pinggir jalan raya, ketika saya menghentikan motor di tengah perjalanan ke Cililitan untuk mentranskip suatu seminar.
"Aa juga kangen...Besok sore aa pulang bawa oleh-oleh.."




Read more

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei