ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

9 Feb 2009

facebook, dokter-dokter mudi dan kutu (kuman) bernama Scabie Carcaptus

Hehehhehh. Ada saja yang membuatku tertawa senang. Memang menyenangkan jika hidup ini dibuat santai penuh tawa, bahkan walau kondisi fisik tak sehat sekali pun. Ya…ya…kalau diingat-ingat, kejadian di dalam ruangan tadi memang lucu, setidaknya bagiku sendiri.
.

Rumah Sakit Tarakan
Pagi jam delapan, hujan deras telah berhenti. Tinggal hujan rintik yang masih me-ngeclak tak mau mati. Walau demikian, aku, Ummi dan Azizah, adikku yang masih berumur lima setengah tahun, telah berada di atas motor menuju Rumah Sakit Tarakan. Hujan receh bukan pantangan, dengan semangat ingin sembuh, gerimis mini itu kami lawan. Setiba di tujuan, kami langsung mengantri, mendaftarkan diri sebagai orang yang ingin dan akan S.E.M.B.U.H. Setelah melewati semua prosedur, kami ke atas menggunakan lift. Azizah terlihat senang kegirangan menekan tombol angka 2, lantai tempat spesialis kulit berada.
.

Di sana kami menanti cukup lama. Aku pun sempat salah paham karena nomor urut kami tak kunjung dipanggil, bahkan di lewat beberapa nomor. Setelah mengadu ke bagian pendaftaran, akhirnya ku tahu mengapa kami dilewati. Ternyata nomor pasien tidak diurutkan sesuai angkanya, tapi sesuai kedatangan pasien ke rumah sakit. Ah, ya sudahlah..toh akhirnya Azizah mendapat giliran juga. Normor urutnya 11, aku 12. Setelah Azizah dan Ummi dipanggil masuk kamar, aku menanti di lorong ruangan lumayan lama. Penasaran apa yang terjadi di dalam kamar, aku berusaha melihat ke dalam. Hordeng jendela sedikit terbuka. Aku melihat seorang wanita muda berseragam khas dokter berdiri memandang ke samping ruang. Sepertinya ia sedang melihat ke arah Azizah. Hmm…tapi kenapa ia hanya diam dan mengamati saja. Ia tak melakukan gerakan-gerakan seperti seorang dokter sedang mengecek pasiennya. Seketika aku teringat sesuatu. Tadi sesaat setelah Azizah masuk ruangan, segerombolan wanita muda bersergama putih mengikuti di belakangnya, masuk ruangan tersebut. Mungkin sekitar enam sampai tujuh orang. Waduh, gawat! Ada banyak perempuan di dalam ruangan kecil ini. Bagaimana kalau saat giliranku tiba, dan bok*ngku harus disuntik sementara mereka ada di dalam!!?? Gawat, aku harus melakukan sesuatu. Tukar dokter! Ya, aku akan minta dokternya ditukar dengan dokter laki-laki, dan meminta para dokter mudi itu keluar ruangan. Kalaupun tak ada dokter laki-laki, setidaknya si dokter penyembuhku itu usianya harus jauh lebih tua dariku. Tidak seperti mereka yang sepertinya sepantaran denganku.
.

Belum sempat aku melakukan sesuatu, pintu kamar terbuka. Ummi keluar dengan Azizah, diikuti seorang dokter muda yang berseru, “Nomor 12!”.
Itu nomorku. Aku pun terpaksa masuk ke ruangan itu. Saat berpapasan dengan Ummi, ia sempat bilang sambil setengah tertawa, “dokternya perempuan semua..”
“heheh”, aku tersenyum bingung. Tapi…ah, biar saja. Aku ingin sembuh. Siapa pun dokternya, aku siap. Yang penting aku bisa sehat kembali seperti sedia kala. Aku melangkahkan kaki, memasuki ruangan dengan semangat ingin sembuh. Di dalam aku lihat satu, dua, tiga…ada tujuh wanita muda berseragam serba putih berdiri dan seorang wanita duduk manis di tengah-tengah mereka. Dia pasti bosnya, pikirku. Tapi aku tak berhenti disana. Di sana ada ruangan yang ditutupi tirai. Kakiku terus kulangkahkan memasuki ruangan bertirai tersebut. Saat tanganku membuka tirai itu, ku lihat wanita setengah tua sedang asyik mencorat-coret kertas di mejanya. Ia menoleh ke arahku dan memandangku dengan pandangan orang yang bingung.
.

“Ee,,ee,,di sini mas..!”, panggil salah satu wanita yang berdiri.
Aku menoleh ke belakang, “Oo di sini..”, kataku sambil tersenyum dan menghampiri mba dokter yang sedang duduk. Disana ada satu bangku kosong. Posisinya tidak berhadap-hadapan dengan mba dokter yang sedang duduk itu, tapi menyamping dan cukup dekat dengannya. Aku duduk di bangku itu sambil menyodorkan kertas pendaftaranku.
“Sakit apa, mas?”, tanya mba dokter itu.
Dia masih muda, gak enak kalau ku panggil ibu..pikirku.
“Ini mba, lihat nih..”, kataku sambil menunjukkan telapak tanganku kepadanya.
Ia diam sejenak dan kemudian tiba-tiba ia berkata, “Ini penyakit yang khas, lihat!”, ia berkata penuh antusiasme sambil mengajak para dokter muda atau entah dokter magang yang berdiri di belakangnya, untuk melihat ke arah tanganku. Lalu ia melanjutkan, “Sumber penyakitnya adalah kutu. Kutu itu membuat jembatan masuk ke dalam kulit, lalu menghisap protein tubuh dan membuat luka pada kulit. Setelah proteinnya habis, ia akan keluar dan mencari area lain pada kulit.”
“Oo..jadi ini bukan karena air ya?”, tanyaku.
“Bukan”
“Ooo..soalnya begini, mba..”, aku berusaha menjelaskan, “Beberapa hari yang lalu, saya pernah nyaring air di rumah. Dan ternyata ada banyak pasir besi. Saya kira karena itu..Bukan ya, mba?”
“Bukan”, jawab dia, “Ini karena kutu”
“Kutu!??”
“Iya”
“Serius, mba??”
“Iya..”
“Oo..tadi tu beneran ngejelasin...kirain teh becanda..”
Ee.. Mereka malah tertawa..
“Yaiyalah, mas. Beneran.. Masa boongan..”, ucapnya meyakinkanku sambil membolak-balik buku tebal di depannya.
“ini foto kutunya”, kata dokter itu sambil menyodorkan buku tersebut kepadaku.
“Hehehh. Jadi gara-gara kutu toh…Ini semacam kuman yah?”
“Iya..”
Lalu mba dokter itu memohon sesuatu kepadaku.
“Mas, foto dulu yah..”, sambil mengarahkan kameranya ke tanganku yang ku letakkan di atas meja. Entah apa tujuannya tapi kupersilahkan saja, “ya, silahkan..”.
Tiba-tiba dokter mudi yang sedari tadi berdiri tepat di depanku mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah handphone berkamera!!! lebay...
Ia lalu bilang pada mba dokter yg duduk, “dok, saya boleh foto juga..”.
Ooo..ternyata benar..sepertinya mereka sedang magang (praktek, maksudku)...
“Ya, tanya aja sama mas nya...”, kata dokter itu sambil asyik memoto tanganku.
Lalu dia melihat ke arahku dan bertanya, "boleh?", sambil menunjukkan hapenya ke arah tanganku.
“boleh, asal jangan dimasukin ke facebook aja”, candaku.
Spontan ia dan dokter-dokter magang lainnya tertawa, termasuk pemimpin pasukan, si mba dokter .
“Tenang aja, mas. Cuman tangannya aja kok, mukanya mah nggak..”, ucapnya sambil mengikuti mba dokter, memotret tanganku.
Seorang dokter mudi lain yang berdiri paling pojok menimpali, “Kalau bilang kayak gitu, biasanya justru minta dimasukun ke facebook tuh..”.
Heheh. Aku hanya tersenyum melihat antusiasme mereka bergurau. Maklum, sebenarnya aku malu di kelilingi mereka. Mereka semua perempuan dan masih mudi. Kalau sudah tua atau ibu-ibu, aku kan bisa menceriterakan keluhanku seperti seorang anak yang mengadu kepada ibunya. Tapi kalau begini, aku harus mencairkan suasana terlebih dulu agar aku bisa menceritakan penyakitku dengan lebih bebas, tanpa malu-malu.
Setelah ia selesai mengambil foto tanganku, aku bertanya, “Tadi nama penyakitnya apa, mba?”
“Scabie.”
“Tulisannya gimana ya? Buat dimasukin di blog nih..”
Hahahahh. Mereka tertawa pelan namun cukup riuh untuk memenuhi ruangan kecil itu. Sedangkan si mba dokter kembali membuka halaman yang menjelaskan penyakitku itu.
Seorang dokter mudi lainnya berkata, “Orang mah ya, penyakit beginian disembunyiin, ini mah malah mau ditulis. Nanti nulisnya begini...saya sakit karena…”, belum selesai bicara, dokter-dokter magang lainnya sudah tertawa kembali.
“Coba lihat, tadi namanya siapa.”, Tanya salah satu dokter sambil melihat ke kertas formulirku. “Oo.. Ngelanturb*y”, seru dokter mudi itu.
“ini..”, mba dokter si ketua suku menyodorkan kitab tebalnya itu ke arahku.
“Scabie carcaptus..“, gumamku.
“itu gambarnya, kalau mau sekalian difoto.”
"Ah, enggak. Makasih. Gambarnya mah ngeri..",timbalku.
Setelah itu, mba dokter memberikanku kertas-kertas tadi. Lalu memberikanku wejangan..”bla..bla..bla...Bla..bli..blu..”
“Okeh, kertas-kertas ini boleh saya bawa semua nih, mba?”, tanyaku.
“Iya. Itu kan resepnya. Asal jangan bawa dokternya aja..hehehh”, dokter-dokter mudi di belakangnya tertawa.
Aku pun tertawa mendengarnya.
“Kalau begitu, terima kasih, mba..”
“Iya..sama2…”.
Aku bangun dari dudukku, membalikkan badan, membuka pintu, dan meninggalkan mereka. Selamat tinggal mba Dokter Tika. Selamat tinggal para dokter mudi yang ramah dan penuh canda. Terima kasih atas wejangan-wejangannya. Terima-kasih atas keramahannya. Mudah-mudahan aku tak pernah bertemu kalian lagi, selamanya...

Rumah Sakit Tarakan
09022009

3 comments:

  1. scabies yagh?!? obatnya salep bukan?!?
    wah menyiksa skli tuh penyakit,aplg kl dah mulai gatel2nya kambuh..

    ReplyDelete

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei