ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

16 Feb 2009

Lukamu Lukaku

Senin malam pukul delapan di tempat biasa aku menuai ilmu tasawuf & tafsir dari Mr.ZZ, aku duduk bersama para “pelajar” lain untuk dua hal. Pertama, kami berkumpul mensyukuri lancarnya pernikahan temanku sejak SMA yang kebetulan adalah anak Mr.ZZ; Fardiana Fikria. Untuk ia dan suaminya, Viki, kuucapkan selamat mendapatkan kenikmatan & tanggung jawab baru! Semoga seseorang termuda di antara kami dan satu-satunya yang belum menikah lekas menyusulnya. Amien! (Bagi siapa saja yang membaca ini, tolong katakan “Amien!” juga. 
.
Kedua, ini tentang seorang manusia suci yang tak takut mati, Al-Husein cucunda Nabi Saw. 40 hari yang lalu, ribuan tahun yang lalu, ia dan Tuhannya bertemu. Demi mengibarkan bendera kebenaran, nyawanya sendiri rela ia korbankan. Bersama 72 sanak famili dan sahabatnya yang setia, termasuk diantaranya para wanita dan anak-anak, ia dikepung ribuan tentara berseragam dan bersenjata lengkap. Selama berhari-hari, jalur air ditutup dan dijaga ketat pasukan terkutuk. Khafilah Al-Husein dibiarkan kehausan selama berhari-hari. Kecuali kalau ia mau mengakui dan mensyahkan pemerintahan dzalim kala itu. Tapi Al-Husein memiilh untuk berperang untuk tegaknya kebenaran. Walau kondisi dan jumlah pasukan tak seimbang, ia dan khafilahnya tak gentar. Justru semangat menumbangkan kedzaliman semakin menggelora. Satu persatu para punggawa kebenaran itu meminta izin kepada Al-Husein untuk menghancurkan kepungan musuh. Pengikut Al-Husein adalah para ksatria tangguh. Sambil menahan dahaga, ratusan tentara musuh berhasil dibunuh. Tapi lelah dan dahaga berhari-hari yang mereka derita membawa mereka kepada kesyahidan. Al-Husein pun syahid ditombak pengecut dari belakang. Badannya dicabik-cabik, kepalanya dipisahkan dari tubuhnya, ditusuk tombak dan di arak di tengah kota Kuffah. Ma raitu illa jamiila. “Tak kulihat sesuatu, kecuali keindahan”, seru Zainab yang melihat saudaranya dipenggal. Kata-kata ini terdengar begitu mengerikan. Bagaimana mungkin kejadian mengerikan seperti itu disebut keindahan? Para pemikir modernis tak kan pernah mengerti hal ini. Terlebih lagi jika mereka memakai paradigma materialistis atau positivistis. Sayyidah Zainab melihatnya dengan kacamata ruhani. Al-Husein mungkin mati terbunuh, tapi justru pada saat itu kebenaran tumbuh. Raganya mungkin hancur, tapi jiwanya telah melebur kepada Sang Kekasih. Secara materi, mungkin ia kalah, tapi pengorbanan Al-Husein adalah kemenangan bagi pejunjung kebenaran.

Hari ini malam ke40 pasca syahidnya Al-Husein cucunda Rasul Muhammad saww. Mengenang perjuangannya adalah memperingati tumbangnya kedzaliman, dan kembali tumbuhnya kebenaran.



1 comment:

  1. kullu yaumin asy-syura, kullu ardin karbala...

    thx bwt postingnya.
    sdikit dmi sdikit sy mengerti jg kisah alhusein

    ReplyDelete

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei