ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

27 Feb 2009

Salat untuk Hari Naas dalam Bulan Shafar

0 komentar
Hari rabu dua hari yang lalu, aku menderita. Entah kenapa. Tadi saat aku mampir ke blog dosenku, aku menemukan tulisan ini. Mungkin ini salah satu penyebab deritaku itu. Bahwa hari Rabu terakhir dalam Bulan Shafar dipercaya sebagai hari naas. Percaya atau tidak, hari rabu kemarin, aku memang ketiban sial. Tiba-tiba aku tak bisa jalan seperti biasanya. lengkapnya lihat postingku ini saja.

-----*****----
Ini tulisan yang kutemukan itu.

Shalat dan Doa Khusus Rabu Terakhir Bulan Shafar

Hari Rabu terakhir dalam bulan Shafar diyakini sebagai hari naas. Karena itu, terdapat bermacam riwayat yang menganjurkan dilakukan shalat dua rakaat demi menghindarkan diri dari kenaasaanya, bersedekah dan memabaca sejumlah doa khusus.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Nabi bersabda, waspadailah hari Rabu karena ia hari sial. Diriawayatkan pula, setiap tahun 320.000 bencana turun pada rabu terakhir bulan Shafar. Dianjurkan untuk melakukan shalat dua rakaat dua kali (empat rakaat). Pada setiap rakaat membaca al-fatihah dan surah al-kautsar 17 kali, al-ikhlas 5 kali dan al-nas dan al-falaq masing-masing 1 kali.

Usai shalat, dianjurkan membaca doa sebagai berikut:

{يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَ يَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ يَا عَزِيْزُ يَا عَزِيْزُ، ذَلَّتْ بِعَظَمَتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ، فَاكْفِنِيْ شَرَّ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجْمِلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُفْضِلُ يَا لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَ نَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَ كَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِيْنَ، وَ صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ اٰلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

(Allaahumma yaa syadiidal quwa wa yaa syadidal mihal, ya ‘aziz dzallat liadhamatika jami’u khalqika ikfini min jami’i khalqika, ya muhsinu, ya mujmilu, ya mufdhilu, ya mun’imu, yaa mukrimu ya man la ilaha illa anta, bi rahmatika ya arhamar rahimin wa shallalhu ala Muhammadin wa alihiththahirin‏)

Wahai Zat Yang Mahakuat, wahai Zat Yang Mahakeras, wahai Zat Yang Mahamulia, sungguh rendah semua makhluk-Mu di hadapan keagungan-Mu, maka jauhkanlah kejahatan dariku makhluk-Mu, wahai Zat Yang Mahaindah, Pemberi karunia dan anugerah, tiada tuhan selain Engkau! Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim, kami terima untuknya, kami selamatkan ia dari kejenuhan dan kami selamatkan kaum mukminin, anugerahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya yang suci



Read more

26 Feb 2009

0 komentar

i can not forgive myself cause i can not help you..
-----*****----

ku ingin ke kotamu, membantumu.
ku ingin membantumu di kotamu.
tak ingin ku berdiam diri disini, sementara kau sedang bersedih hati disana.
o..putri hatiku..
ku ingin ke kotamu, mengusap air mata yang menetes di pipimu.
ku ingin ke kotamu, memberikan pundakku bagi kepalamu.
ku ingin ke kotamu, meringankan bebanmu.
-----*****----
26 Februari 2009
saat mata hatiku meneteskan air matanya
Read more

RABU KELABU

2 komentar
T u h a n , t u n g g u a k u s e j e n a k . B i a r k a n a k u m e n i k m a t i r a s a s a k i t k u i n i d u l u . B i a r k a n a k u i s t i r a h a t s e j e n a k s e b e l u m m e n e m u i M u . B u k a n m a k s u d k u t u k m e l u p a k a n M u . T a p i k e p a l a k u p e n i n g , b a d a n k u r e m u k , k a k i k u b e r n a n a h n y e r i h i n g g a m e m b u a t k u p i n c a n g k a l a b e r j a l a n . A k u p u n d e m a m . B u k a n k a h i n i b u k a n a p o l o g i a , T u h a n ?
T u h a n , a k u t a h u k a u p a s t i i z i n k a n k u m e m e j a m k a n m a t a s e j e n a k , k a r e n a b u k a n k a h p a d a g e l a p m a l a m i t u a d a c a h a y a M u ? b u k a n k a h p a d a r a s a s a k i t k u i n i j u g a a d a d i r i M u ?



2 2: 5 0 . 2 5 f e b r u a r i 2 0 0 9
R u a n g u t a m a k o s t - a n Y a m i n

-----*****----



dua hari yang lalu, 23 februari 2009, senin malam, demi membantu ayahku, aku gagal memperingati syahadahnya saww bersama sayyed faris di kediamannya...

selasa malam, 24 februari, aku melihat guruku membaca puisi yang membuat melelehnya air mata, selain itu ia juga membagikan makanan ke para jama'ah..
ia membagikan kotak makanan itu tanpa malu-malu seolah pelayan,
dengan senyum yang ku kenal menghiasi wajahnya..

rabu malam, 25 februari, aku kesulitan berjalan. padahal tadi pagi aku masih baik-baik saja kecuali luka kecil yang menempel di kaki. semakin siang, semakin sore, luka itu semakin membesar dan membuatku sulit berjalan. rasa nyeri menghampiri saat kuinjakkan kaki kiriku ke atas bumi. "ini cobaan atau laknat", pikirku sambil berjalan tergopoh-gopoh. aku pun tak bisa mengendarai motor yang kugunakan ke kampusku tadi pagi. temanku jadi korban, ia jadi supir sementaraku. kami bergeser dari plasa III ke plasa I, pergi ke paramadina tempat kajian tafsir dan fushus al-hikam biasa diadakan setiap RABU. malam itu Rabu malam, aku menikmati kajian Ibn Arabi dengan duduk tak diatas kursi tapi diatas sajadah panjang dan lebar yang tergelar di sisi kanan ruangan. Telingaku mendengarkan Guru Bagir menjelaskan kualitas 'Isaiyah yang sudah mencapai pertemuan kelima, sementara tanganku tak berhenti mengelapkan tisu ke atas kakiku yang terus mengeluarkan nanah dan darah. Guru, ada apa ini, cobaan atau laknat?


-----*****----

hm...kemarin malam tak ada yang luka pada kakiku kecuali hanya luka-luka kecil. Aku pikir nanti juga hilang. Tadi pagi kakiku juga masih baik-baik saja kecuali bintik-binti kecil yang aku khawatirkan sebagai awal dari berkembangnya penyakit ini.
Semakin siang, nanah itu semakin membesar, terus membesar sampai akhirnya menjadi gunung nanah. Rasa sakit pun semakin terasa.

malam melarut, hari berganti, kini 26 Febuari 2009. 01.28
rasa sakit ini membuatku sedikit sulit tidur. tapi kini demamku berkurang. Rasa pusingku juga perlahan memudar, walau masih terasa. Aku bersyukur. Di tanganku, tergenggam obat yang baru saja malam tadi ku beli. tapi aku tak tega untuk memakan obat ini. Aku teringat azizah "puteriku".
"Yamin, kau membuatku berada di posisi sulit!"
"Kau yang terus memaksaku membeli obat ini.."
Rasa sakitku ini terus berteriak kepadaku, "makan obat itu! Makan obat itu!" Tapi hatiku tak tega. "Azizah, apa kabarmu?" Aku harap kau sudah membaik agar aku bisa tenang memakan obat ini. Aku merebahkan badanku, menutup kedua mataku dengan tanganku. azizah, obat ini tak akan kumakan sampai kutahu keadaanmu pun membaik. kini biarkan aku terlelap. Menghilangkan kesadaran dunia, menuju kesadaran batin.
-----*****----
m a t a k u,
s e p e r t i n y a k a u l e l a h,
t e r p e j a m l a h...

Read more

23 Feb 2009

Ziarahmu..

2 komentar
Malam ini ku berduka mengenangmu,,
Mengharapkan cahayamu terangi gelap hatiku..
-----****----
28 Safar/23 Februari
Saat mayoritas umatmu lupa atau bahkan tak tahu hari syahidmu..



Read more

Free Download Novel Gratis!!

0 komentar
I don't have a lot of novel ebook. But I have some n i want to share it...

here they are...

Please Download & Happy Reading!

Akang Harry Potter

Magyk - Heap 1


Kisah Klan Otori 1

Kisah Klan Otori 2

Musashi

Angel & Demon

Deception Point (Titi Muslihat)


Read more

22 Feb 2009

Mari bunuh orang-orang kafir!! (hati-hati keliru!)

2 komentar
Mari bunuh orang-orang kafir!!!
kalimat di atas sering diteriakkan oleh para fundamentalis agama. Aku setuju dengan teriakan itu. Ya, aku setuju dengan mereka. Mari kita bunuh orang-orang kafir! Bunuh mereka! Baik sengaja atau tidak, mereka telah menolak eksistensi & keesaan Tuhan. Karena itu, mari kita bunuh mereka!! Koyak tubuh mereka, hancurkan gedung-gedung milik mereka.

.
Tapi jangan keliru! Maksudku bukan tubuh fisik, bukan gedung-gedung material. Tapi bunuh kekeliruan mereka. Hancurkan pondasi pemikiran mereka. Perintah qatalu (bunuhlah) dalam Al-Qur'an dimaksudkan membunuh persepsi mereka. Bunuhlah keyakinan mereka yang keliru itu. Kalau kita memang yakin akan keberadaan Tuhan dan Ia adalah esa, maka buktikan semua itu kepada mereka dengan cara-cara lembut yang welas asih. Sebagaimana Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang..?

Read more

20 Feb 2009

Sang Pengubah Rasa

0 komentar
"Duhai Yang Membolak-Balikkan Hati..."

Sungguh kau dapat mengubah rasa..
dari biasa jadi suka
dari suka jadi duka
dari duka jadi suka
tak lebih dari sekejap mata..
-----*****----
.
.
kotabambuutara
Di tengah malam aku semakin yakin tentang hal ini..
20022009

Read more

surga dan ibu

1 komentar
Katanya, surga ada di bawah telapak kaki ibu.
Ibu bukanlah orang melahirkan saja. Ada banyak perempuan yang membuang atau bahkan membunuh anak yang baru dilahirkannya. Perempuan-perempuan seperti ini tidak pantas disebut ibu. Ibu itu seperti tuhan, ia pengasih dan penyayang. Ibu adalah sebuah kualitas. Dan kualitas keibuan bisa dimiliki oleh seorang perempuan mau pun lelaki. Ia sudah, belum atau bahkan tidak melahirkan sekalipun, ia bisa menjadi seorang ibu. JIka orang tua lelaki dan perempuan kita mengasihi dan menyayangi kita, maka hormatilah mereka. karena surga ada di bawah telapak kaki mereka.


Read more

19 Feb 2009

Tuhan, Ajari aku cara menCinta

3 komentar
13 menit 53 detik suaramu datang menghampiriku, mengusir rindu yang telah lama memelukku. Mengirimkan kata-kata, canda dan tawa yang terbungkus suara.
-----*****----
Duhai Tuhan para pecinta, aku masih dan sedang belajar mencintaiMu. Tuhanku, menurut para pecinta sejatimu, saat seseorang mencintaiMu, maka tak ada lagi yang ada di dalam pikiran dan hatinya selain diriMu. Apakah benar seperti itu, wahai Tuhanku?
.
Tuhanku, kalau memang begitu izinkan aku mengadu.
Perasaan apa ini yang berkecamuk di dalam hati?
Perasaan tentangnya yang terus menghantuiku, Cinta kah? Atau gejolak semu bernama nafsu?
Tuhanku, bukankah menurut para pecintamu juga, justru hubunganku dengannya dapat menjadi penghubung kepadaMu. Nanti ada saatnya dimana hubungan kita memberikan puncak kesadaran tertinggi tentang diriMu.
Tuhan, ia terasa begitu berharga bagiku. Di antara pasir pantai yang menggelitik kaki, Kau pertemukan aku dengannya. Muncul sebuah pertanyaan. Pantaskah ia menjadi Laila bagiku? Sebentar.. Pertanyaan yang sama pun sepertinya bisa dibalikkan kepadaku; Pantaskah aku menjadi Majnun baginya? 

Sungguh.. Menjadi pecinta sejati itu sulit. Aku hanya seseorang yang mengaku pecinta, padahal lebih ingin dicinta. Karena itu, Tuhan! Bantu aku mencintainya dengan ikhlas tanpa mengharapkan balas. Bukankah memang seperti itu seharusnya cinta?
-----*****-----

*about you this evening: 
i’m happy for your calling. miss you right now..
-----*****-----
Jumat, 20.02.2009 @Kota Bambu Utara

Read more

00.22 - 00.23 : Tentang SMSmu

1 komentar
Aku masih ingat…
Mungkin pukul 00:22. Aku baru saja selesai membaca ayat-ayatNya. Sedikit terburu-buru. Sulit sekali mencapai sebuah ketenangan batin.
.
Aku masih ingat…
Sepertinya pukul 00:22. Aku baru saja mencium kitab suci itu. Sedikit terburu-buru memang. Aku seperti orang yang jogging mengelilingi lapangan Senayan. Hampir saja aku berkeringat karenanya. Eh, sepertinya tubuhku memang sudah berkeringat, walau tak banyak. Entah kenapa. Mungkin suhu ruangan itu penyebabnya. Kawan-kawanku, Mas Khumaidi dan Reno juga mengeluhkan hal yang sama.
.
Aku masih ingat…
Kemungkinan besar saat ini juga masih pukul 00:22. Baru saja aku melipat sajadah lembut berwarna merah marun itu dengan cepat, menaruhnya di atas kasur, lalu langsung membuka tas hikingku. Di dalam tas hikingku ada tas pinggangku, dan di dalam tas pinggangku itu lah ku taruh handphoneku. Aku sengaja menaruh handphoneku di dalam sana agar ia jauh dari jangkauanku. Sehingga aku tak bisa sering-sering melihat handphoneku. Karena sepanjang hari ini, di tengah-tengah aktivitasku, pikiranku selalu terpaut pada alat komunikasiku itu. Berharap ada pesan yang kuterima darimu. Tapi...

.
Aku masih ingat…saat ku tatap handphoneku. Terlihat jelas di pojok kiri atas layarnya, jam digital menunjukkan pukul 00:22. Selain itu aku tak melihat apa-apa kecuali foto kita yang kujadikan background handphoneku. Perasaan kecewa menghampiri karena tak ada satu pesan pun darimu. Sejak kejadian itu, kau seperti menghindar.

Fiuh! Aku menghela nafas. Berusaha untuk berpikir positif tentangmu, tapi sulit. Mungkin kau sengaja menjauh, tak ingin memberiku kabar lagi tentangmu atau jengah karena ku terus “mengganggu” dirimu. Aku tak tahu kenapa, mungkinkah kejadian dua malam yang lalu penyebabnya?
.
Ah, memang sungguh sulit. Tapi kuputuskan untuk tetap berpikir positif tentangmu. Aku tanamkan dalam-dalam dalam pikiranku ribuan kemungkinan positif. Mungkin kau sedang belajar seperti malam-malam lalu, atau mungkin kau kelelahan karena tadi pergi bersama orang tuamu seperti kemarin malam dan kau tertidur sebelum sempat memberiku kabar, atau mungkin kau tahu dan ingat jadwalku hari ini, bahwa setiap hari rabu aku mengikuti kajian tafsir dan fushus al-hikam sampai malam malam hari, hingga kau tak mau menggangguku. Mungkinkah seperti itu? Ya, mungkin ini, mungkin itu. Tentangmu hari ini, Ku tanamkan segala macam tumbuhan positif di atas tanah kering pikiranku. Walau tetap saja pada akhirnya aku tak bisa menghilangkan rasa kecewa karena ku tak mendapatkan pesan darimu sampai hari telah berganti.
.
Gelisah dalam penantian, kuputuskan untuk mengganti kartu as-ku dengan kartu 3-ku yang baru kugunakan kembali kemarin malam, setelah lebih dari dua minggu masa aktif kartu 3 ku itu habis. Aku sengaja memakai kartu 3-ku, dengan harapan aku berhenti mengharapkanmu pesan darimu. Aku memaksa diriku berhenti mengharapkanmu, karena aku takut diriku kecewa.
.
Aku masih ingat…pagi ini pukul 00:23 menurut versi handphoneku, aku telah berganti kartu 3. Menunggu sejenak, takut-takut ada pesan dari kawan-kawanku. Setelah beberapa saat, ku putuskan untuk memasukkan handphoneku ke dalam tas pinggangku yang baru saja aku mau memakainya kembali hari minggu kemarin, setelah sekian lama aku enggan memakainya karena tak mau dikira meniru Ariel Peter Pan.
.
Aku masih ingat…Baru beberapa detik saja aku masukkan handphoneku yang ku silent mode ke dalam tas pinggangku, aku sudah keluarkan kembali dengan harapan ada pesan yang telat masuk.
.
Ya, aku masih ingat… Waktu masih menunjukkan pukul 00:23, saat aku hampir saja berteriak senang dalam hati. Karena aku mendapat dua message dari nama itu; Poetry v***tri*na. Aku hampir saja tak percaya, aneh sekali. Mengapa kau mengirim message ke nomor ini? Bukankah biasanya kau mengirimkan sms ke nomor as-ku? dimana gara-gara itulah aku mengabaikan kartu 3-ku. Ah, yasudahlah, biarkan kubaca pesanmu. Aku penasaran apa isi pesanmu itu. Kubuka satu persatu sms darimu. SMS pertama, kulihat waktu terkirimnya; Jam tiga sore. Kau bertanya kenapa aku tak jadi menelponmu. Aku senang sekali membacanya, aku sedikit menganalisa kata-katamu dan menaburkan bumbu-bumbu harapan yang ada di dalam hatiku ke dalam analisaku itu. Sepertinya tadi sore kau mengharapkan aku kembali menelponmu, sebagaimana aku tadi mengharapkan kau mengangkat telponku dan membiarkanku sedikit melepas rindu. Ya, mungkin analisaku atas pesanmu keliru, tapi siapa yang pedulikan itu. Lalu kubaca sms-mu yang satu lagi…pukul sembilang kurang. owh!!! Aku diam sejenak, menahan degup jantungku yang tiba-tiba berdetak cepat. Kau memintaku pergi ke kotamu. Mataku berkaca-kaca, hampir saja aku meneteskan air mataku. Ternyata kau pun ingin bertemu kembali denganku.
.
Tapi…tunggu dulu! Mungkin saja kau ingin bertemu denganku karena ingin mengakhiri semua ini. Merasa lelah dengan hubungan yang tak pasti ini, lalu mengembalikan gelang yang kupakaikan ke lenganmu. Kemudian memintaku pergi menjauh dan tak lagi kembali menggangu hari-harimu. Ah, Sial! lagi-lagi pikiran buruk merasukiku. Ah...aku…Tidak! Tidak! Pasti bukan itu..
.
Aku pejamkan mataku, menarik nafasku dalam-dalam dan...Huuhh..! Aku lelah menerka-nerka. Aku biarkan semua itu mengalir, sebagaimana mengalirnya kasih sayang Tuhan dalam setiap jengkal kehidupan. Saat ini aku tak perlu dan tak mau memikirkan hal itu. Lagipula aku tak bisa meninggalkan kotaku. Ada banyak hal yang harus kuselesaikan di sisa liburanku yang tinggal empat hari ini. Beberapa buku pinjaman yang belum selesai kubaca, lomba meresensi buku Tauhid & Sains, rapat committee Britzone, kajian tafsir Al-ikhlas bersama Britzoners, dan seminar Britzoners bersama Tanto Wiyahya di Depdiknas yang bertepatan dengan acara Arba'in Al-Husein di Masjid Attien Sabtu pagi ini, belum lagi keinginanku untuk bermain futsal esok pagi. Fiuh! Pasti melelahkan. Terlalu banyak rencana, mungkin aku hanya bisa melakukan sebagiannya saja. Saat ini aku lelah dan hari semakin pagi. Lebih baik kutitipkan saja misteri ini pada nyamuk yang sedari tadi menggigit tanganku, agar pagi ini aku bisa memejamkan mataku dengan tenang, membiarkan mata hatiku menyendiri dan terbebas darimu, sayang…setidaknya sampai mentari esok pagi bersinar kembali.


01:28.19022009
Basecamp kawan-kawanku yang lama tak kukunjungi, Ciputat City.


Read more

16 Feb 2009

Lukamu Lukaku

1 komentar
Senin malam pukul delapan di tempat biasa aku menuai ilmu tasawuf & tafsir dari Mr.ZZ, aku duduk bersama para “pelajar” lain untuk dua hal. Pertama, kami berkumpul mensyukuri lancarnya pernikahan temanku sejak SMA yang kebetulan adalah anak Mr.ZZ; Fardiana Fikria. Untuk ia dan suaminya, Viki, kuucapkan selamat mendapatkan kenikmatan & tanggung jawab baru! Semoga seseorang termuda di antara kami dan satu-satunya yang belum menikah lekas menyusulnya. Amien! (Bagi siapa saja yang membaca ini, tolong katakan “Amien!” juga. 
.
Kedua, ini tentang seorang manusia suci yang tak takut mati, Al-Husein cucunda Nabi Saw. 40 hari yang lalu, ribuan tahun yang lalu, ia dan Tuhannya bertemu. Demi mengibarkan bendera kebenaran, nyawanya sendiri rela ia korbankan. Bersama 72 sanak famili dan sahabatnya yang setia, termasuk diantaranya para wanita dan anak-anak, ia dikepung ribuan tentara berseragam dan bersenjata lengkap. Selama berhari-hari, jalur air ditutup dan dijaga ketat pasukan terkutuk. Khafilah Al-Husein dibiarkan kehausan selama berhari-hari. Kecuali kalau ia mau mengakui dan mensyahkan pemerintahan dzalim kala itu. Tapi Al-Husein memiilh untuk berperang untuk tegaknya kebenaran. Walau kondisi dan jumlah pasukan tak seimbang, ia dan khafilahnya tak gentar. Justru semangat menumbangkan kedzaliman semakin menggelora. Satu persatu para punggawa kebenaran itu meminta izin kepada Al-Husein untuk menghancurkan kepungan musuh. Pengikut Al-Husein adalah para ksatria tangguh. Sambil menahan dahaga, ratusan tentara musuh berhasil dibunuh. Tapi lelah dan dahaga berhari-hari yang mereka derita membawa mereka kepada kesyahidan. Al-Husein pun syahid ditombak pengecut dari belakang. Badannya dicabik-cabik, kepalanya dipisahkan dari tubuhnya, ditusuk tombak dan di arak di tengah kota Kuffah. Ma raitu illa jamiila. “Tak kulihat sesuatu, kecuali keindahan”, seru Zainab yang melihat saudaranya dipenggal. Kata-kata ini terdengar begitu mengerikan. Bagaimana mungkin kejadian mengerikan seperti itu disebut keindahan? Para pemikir modernis tak kan pernah mengerti hal ini. Terlebih lagi jika mereka memakai paradigma materialistis atau positivistis. Sayyidah Zainab melihatnya dengan kacamata ruhani. Al-Husein mungkin mati terbunuh, tapi justru pada saat itu kebenaran tumbuh. Raganya mungkin hancur, tapi jiwanya telah melebur kepada Sang Kekasih. Secara materi, mungkin ia kalah, tapi pengorbanan Al-Husein adalah kemenangan bagi pejunjung kebenaran.

Hari ini malam ke40 pasca syahidnya Al-Husein cucunda Rasul Muhammad saww. Mengenang perjuangannya adalah memperingati tumbangnya kedzaliman, dan kembali tumbuhnya kebenaran.



Read more

Cara baru menikmati kegelisahan

1 komentar
Sejak kemarin malam, aku mempunyai cara baru menikmati kegelisahan yang bersemayam di dalam hati. Cara ini sedikit aneh dan tak pernah terbayangkan olehku bahwa ini cukup menyenangkan. Kemarin malam setelah chatting dengannya, di saat lagu dalam playlist winamp mengiringi bingung yang menghampiri, aku terdiam. Entah kenapa tiba-tiba aku hanya duduk diam membisu tepat di depan computerku. Menatap layar monitor dengan tatapan kosong, berharap ada kejutan reaksi yang tak mungkin terjadi. Membiarkan telinga ini dialiri random lagu yang terdengar dari speaker mungil bercabang dua. Menit itu, lagu itu berdendang mendayu-dayu, serasa sedang menyindirku..
"You… have stolen….my heart…"
Uhff.. What kind of song it is..
Entah kenapa, aktivitas diam ini begitu menarik perhatianku. Mungkin sebuah pelarian. Bergerak melambat menuju diam. Dari ketergesa-gesaan menuju ketenangan. Malam itu, diamku tak diam. Diam fisikku tapi tidak dengan batinku. Diam ragaku tapi tidak dengan pikiranku. Panas tubuhku tapi tidak dengan jiwaku. Jiwaku dingin-panas secara bergantian. “panas” karena suasana hati yang gelisah, sedangkan “dingin” pikiranku meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Pergolakan perasaan, antara kegelisahan dan ketenangan. Tentunya aku memilih untuk tenang dalam diam.
-----*****----
Senin, 16022009. 05.47


Read more

10 Feb 2009

syukur

2 komentar
Huuuu..............
Alhamdu Segala Puji, Lillah bagi Allah (A.L.L.a.H)
Aku membaik.
Sedari awal, jauh sebelum aku meracuni tubuhku dengan zat kimia di dalam obat itu, aku yakin kesehatanku akan membaik dalam waktu dekat. Entah kenapa keyakinan itu bisa muncul. Mungkin harapan, atau mungkin juga karena keyakinan akan Kasih SayangNya Yang Maha Luas.
Sungguh, Puja dan Puji Syukurku atasNya,
Sang Maha Pengasih, Sang Maha Penyayang.
Read more

9 Feb 2009

facebook, dokter-dokter mudi dan kutu (kuman) bernama Scabie Carcaptus

3 komentar
Hehehhehh. Ada saja yang membuatku tertawa senang. Memang menyenangkan jika hidup ini dibuat santai penuh tawa, bahkan walau kondisi fisik tak sehat sekali pun. Ya…ya…kalau diingat-ingat, kejadian di dalam ruangan tadi memang lucu, setidaknya bagiku sendiri.
.

Rumah Sakit Tarakan
Pagi jam delapan, hujan deras telah berhenti. Tinggal hujan rintik yang masih me-ngeclak tak mau mati. Walau demikian, aku, Ummi dan Azizah, adikku yang masih berumur lima setengah tahun, telah berada di atas motor menuju Rumah Sakit Tarakan. Hujan receh bukan pantangan, dengan semangat ingin sembuh, gerimis mini itu kami lawan. Setiba di tujuan, kami langsung mengantri, mendaftarkan diri sebagai orang yang ingin dan akan S.E.M.B.U.H. Setelah melewati semua prosedur, kami ke atas menggunakan lift. Azizah terlihat senang kegirangan menekan tombol angka 2, lantai tempat spesialis kulit berada.
.

Di sana kami menanti cukup lama. Aku pun sempat salah paham karena nomor urut kami tak kunjung dipanggil, bahkan di lewat beberapa nomor. Setelah mengadu ke bagian pendaftaran, akhirnya ku tahu mengapa kami dilewati. Ternyata nomor pasien tidak diurutkan sesuai angkanya, tapi sesuai kedatangan pasien ke rumah sakit. Ah, ya sudahlah..toh akhirnya Azizah mendapat giliran juga. Normor urutnya 11, aku 12. Setelah Azizah dan Ummi dipanggil masuk kamar, aku menanti di lorong ruangan lumayan lama. Penasaran apa yang terjadi di dalam kamar, aku berusaha melihat ke dalam. Hordeng jendela sedikit terbuka. Aku melihat seorang wanita muda berseragam khas dokter berdiri memandang ke samping ruang. Sepertinya ia sedang melihat ke arah Azizah. Hmm…tapi kenapa ia hanya diam dan mengamati saja. Ia tak melakukan gerakan-gerakan seperti seorang dokter sedang mengecek pasiennya. Seketika aku teringat sesuatu. Tadi sesaat setelah Azizah masuk ruangan, segerombolan wanita muda bersergama putih mengikuti di belakangnya, masuk ruangan tersebut. Mungkin sekitar enam sampai tujuh orang. Waduh, gawat! Ada banyak perempuan di dalam ruangan kecil ini. Bagaimana kalau saat giliranku tiba, dan bok*ngku harus disuntik sementara mereka ada di dalam!!?? Gawat, aku harus melakukan sesuatu. Tukar dokter! Ya, aku akan minta dokternya ditukar dengan dokter laki-laki, dan meminta para dokter mudi itu keluar ruangan. Kalaupun tak ada dokter laki-laki, setidaknya si dokter penyembuhku itu usianya harus jauh lebih tua dariku. Tidak seperti mereka yang sepertinya sepantaran denganku.
.

Belum sempat aku melakukan sesuatu, pintu kamar terbuka. Ummi keluar dengan Azizah, diikuti seorang dokter muda yang berseru, “Nomor 12!”.
Itu nomorku. Aku pun terpaksa masuk ke ruangan itu. Saat berpapasan dengan Ummi, ia sempat bilang sambil setengah tertawa, “dokternya perempuan semua..”
“heheh”, aku tersenyum bingung. Tapi…ah, biar saja. Aku ingin sembuh. Siapa pun dokternya, aku siap. Yang penting aku bisa sehat kembali seperti sedia kala. Aku melangkahkan kaki, memasuki ruangan dengan semangat ingin sembuh. Di dalam aku lihat satu, dua, tiga…ada tujuh wanita muda berseragam serba putih berdiri dan seorang wanita duduk manis di tengah-tengah mereka. Dia pasti bosnya, pikirku. Tapi aku tak berhenti disana. Di sana ada ruangan yang ditutupi tirai. Kakiku terus kulangkahkan memasuki ruangan bertirai tersebut. Saat tanganku membuka tirai itu, ku lihat wanita setengah tua sedang asyik mencorat-coret kertas di mejanya. Ia menoleh ke arahku dan memandangku dengan pandangan orang yang bingung.
.

“Ee,,ee,,di sini mas..!”, panggil salah satu wanita yang berdiri.
Aku menoleh ke belakang, “Oo di sini..”, kataku sambil tersenyum dan menghampiri mba dokter yang sedang duduk. Disana ada satu bangku kosong. Posisinya tidak berhadap-hadapan dengan mba dokter yang sedang duduk itu, tapi menyamping dan cukup dekat dengannya. Aku duduk di bangku itu sambil menyodorkan kertas pendaftaranku.
“Sakit apa, mas?”, tanya mba dokter itu.
Dia masih muda, gak enak kalau ku panggil ibu..pikirku.
“Ini mba, lihat nih..”, kataku sambil menunjukkan telapak tanganku kepadanya.
Ia diam sejenak dan kemudian tiba-tiba ia berkata, “Ini penyakit yang khas, lihat!”, ia berkata penuh antusiasme sambil mengajak para dokter muda atau entah dokter magang yang berdiri di belakangnya, untuk melihat ke arah tanganku. Lalu ia melanjutkan, “Sumber penyakitnya adalah kutu. Kutu itu membuat jembatan masuk ke dalam kulit, lalu menghisap protein tubuh dan membuat luka pada kulit. Setelah proteinnya habis, ia akan keluar dan mencari area lain pada kulit.”
“Oo..jadi ini bukan karena air ya?”, tanyaku.
“Bukan”
“Ooo..soalnya begini, mba..”, aku berusaha menjelaskan, “Beberapa hari yang lalu, saya pernah nyaring air di rumah. Dan ternyata ada banyak pasir besi. Saya kira karena itu..Bukan ya, mba?”
“Bukan”, jawab dia, “Ini karena kutu”
“Kutu!??”
“Iya”
“Serius, mba??”
“Iya..”
“Oo..tadi tu beneran ngejelasin...kirain teh becanda..”
Ee.. Mereka malah tertawa..
“Yaiyalah, mas. Beneran.. Masa boongan..”, ucapnya meyakinkanku sambil membolak-balik buku tebal di depannya.
“ini foto kutunya”, kata dokter itu sambil menyodorkan buku tersebut kepadaku.
“Hehehh. Jadi gara-gara kutu toh…Ini semacam kuman yah?”
“Iya..”
Lalu mba dokter itu memohon sesuatu kepadaku.
“Mas, foto dulu yah..”, sambil mengarahkan kameranya ke tanganku yang ku letakkan di atas meja. Entah apa tujuannya tapi kupersilahkan saja, “ya, silahkan..”.
Tiba-tiba dokter mudi yang sedari tadi berdiri tepat di depanku mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah handphone berkamera!!! lebay...
Ia lalu bilang pada mba dokter yg duduk, “dok, saya boleh foto juga..”.
Ooo..ternyata benar..sepertinya mereka sedang magang (praktek, maksudku)...
“Ya, tanya aja sama mas nya...”, kata dokter itu sambil asyik memoto tanganku.
Lalu dia melihat ke arahku dan bertanya, "boleh?", sambil menunjukkan hapenya ke arah tanganku.
“boleh, asal jangan dimasukin ke facebook aja”, candaku.
Spontan ia dan dokter-dokter magang lainnya tertawa, termasuk pemimpin pasukan, si mba dokter .
“Tenang aja, mas. Cuman tangannya aja kok, mukanya mah nggak..”, ucapnya sambil mengikuti mba dokter, memotret tanganku.
Seorang dokter mudi lain yang berdiri paling pojok menimpali, “Kalau bilang kayak gitu, biasanya justru minta dimasukun ke facebook tuh..”.
Heheh. Aku hanya tersenyum melihat antusiasme mereka bergurau. Maklum, sebenarnya aku malu di kelilingi mereka. Mereka semua perempuan dan masih mudi. Kalau sudah tua atau ibu-ibu, aku kan bisa menceriterakan keluhanku seperti seorang anak yang mengadu kepada ibunya. Tapi kalau begini, aku harus mencairkan suasana terlebih dulu agar aku bisa menceritakan penyakitku dengan lebih bebas, tanpa malu-malu.
Setelah ia selesai mengambil foto tanganku, aku bertanya, “Tadi nama penyakitnya apa, mba?”
“Scabie.”
“Tulisannya gimana ya? Buat dimasukin di blog nih..”
Hahahahh. Mereka tertawa pelan namun cukup riuh untuk memenuhi ruangan kecil itu. Sedangkan si mba dokter kembali membuka halaman yang menjelaskan penyakitku itu.
Seorang dokter mudi lainnya berkata, “Orang mah ya, penyakit beginian disembunyiin, ini mah malah mau ditulis. Nanti nulisnya begini...saya sakit karena…”, belum selesai bicara, dokter-dokter magang lainnya sudah tertawa kembali.
“Coba lihat, tadi namanya siapa.”, Tanya salah satu dokter sambil melihat ke kertas formulirku. “Oo.. Ngelanturb*y”, seru dokter mudi itu.
“ini..”, mba dokter si ketua suku menyodorkan kitab tebalnya itu ke arahku.
“Scabie carcaptus..“, gumamku.
“itu gambarnya, kalau mau sekalian difoto.”
"Ah, enggak. Makasih. Gambarnya mah ngeri..",timbalku.
Setelah itu, mba dokter memberikanku kertas-kertas tadi. Lalu memberikanku wejangan..”bla..bla..bla...Bla..bli..blu..”
“Okeh, kertas-kertas ini boleh saya bawa semua nih, mba?”, tanyaku.
“Iya. Itu kan resepnya. Asal jangan bawa dokternya aja..hehehh”, dokter-dokter mudi di belakangnya tertawa.
Aku pun tertawa mendengarnya.
“Kalau begitu, terima kasih, mba..”
“Iya..sama2…”.
Aku bangun dari dudukku, membalikkan badan, membuka pintu, dan meninggalkan mereka. Selamat tinggal mba Dokter Tika. Selamat tinggal para dokter mudi yang ramah dan penuh canda. Terima kasih atas wejangan-wejangannya. Terima-kasih atas keramahannya. Mudah-mudahan aku tak pernah bertemu kalian lagi, selamanya...

Rumah Sakit Tarakan
09022009
Read more

bingung

0 komentar
Sampai sekarang aku masih bingung bagaimana menjelaskan kemiskinan, bencana dan hal-hal semisalnya sebagai bagian dari keadilan tuhan...



Read more

7 Feb 2009

melebur dalam luka

6 komentar
Rasa sakit bukan untuk dilawan. Untuk meredamnya, kau hanya perlu merasakannya. Larut dalam luka hingga ia menjadi bagian dari kita, atau kita yang menjadi bagian darinya.
07.02.2009
Read more

Tuhanku MahaKuasa

0 komentar
Hey, luka di tanganku..
Aku punya Tuhan Yang Maha Kuasa
Ia bisa bunuh kau kapan saja...

22:05 22:05 07.02.2009
Read more

5 Feb 2009

salat sunnah

0 komentar

Tentang salat sunnah dalam agama Islam. Jika dilakukan dengan menyertai hati di dalamnya, shalat ini membantu kita untuk mempersiapkan KONDISI HATI kita untuk salat wajib selanjutnya. Allah akan memerhatikan kita yang mempersiapkan diri sebelum bertemu denganNYA.




Read more

00:24, 05.02.2009.

0 komentar
Malam telah larut, hari telah berganti. Berbaring disampingku, Abduh yang berkaos putih. Tak begitu dekat, juga tak bisa disebut jauh. Mungkin hanya terpisah sekitar 15 cm saja. Kami di Paramadina, Plasa Satu. Abduh berselimutkan jaket. Matanya terpejam. Tapi sepertinya ia belum tertidur. Aku sendiri belum mengantuk. Niatku tuk melahap habis buku ini, Nasehat Imam Ja'far Shadiq. Pesan-pesannya sangat mengagumkan dan banyak berkaitan dengan kondisiku saat ini. Walau sebagian besar perlu diberi penjelasan. Takut-takut masyarakat salah menafsirkan. Sebenarnya mataku sudah lelah. Tapi setidaknya aku ingin membaca beberapa lembar lagi sebelum merasakan kematian kecil di pagi ini...
Read more

3 Feb 2009

03.02.2009. Semoga lekas sembuh..!

0 komentar
16:14
"SAkit apa, pak?", tanyaku padanya.
"Ini...lambungnya infeksi", istrinya yang menjawab.
"Padahal sebelumnya gak ada apa-apa, tiba-tiba begini ya..?"
Guruku sedikit menaikkan badannya sambil berkata lirih, "Iya, sakit itu seperti cinta. Kita mau atau tak mau, ia datang tiba-tiba."
Aku tersenyum mendengarnya.
Tepat di depanku kini, guruku. Terbaring lemah menahan rasa sakit. Wajahnya sesekali mengerut. Ia menahan pedih. Lambungnya infeksi, leukositnya meninggi. Di rumahnya, sebelum ia dibawa ke sini oleh para murid yang merupakan saudara-saudaranya, ia muntah-muntah. Di beri obat, tak bereaksi apa-apa. Para muridnya, berinisiatif membawa guru sekaligus saudaranya itu ke rumah sakit terdekat, PELNI. Minggu ini tak ada pengajian. Sebagai gantinya, kami datang ke rumah sakit secara bergantian. Tak ada perintah, tak ada paksaan, hanya kesadaran. Ba'da Magrib, sekitar jam setengah tujuh, lambungnya akan diperiksa kembali untuk mengetahui pasti dimana letak lukanya. Saat itu hanya ada aku, istrinya, Pak Sabar dan Mas MT. Di tengah-tengah rasa sakit yang ia derita, ia masih sempat bergurau membuat kami tertawa.
"Ini wasiat. Kalau saya meninggal, tanah yang di Ciseeng jangan dijual", begitu katanya.
"Tanah disana bukan tanah saya, itu tanah mertua saya".
Mendengar itu, spontan kami tertawa pelan. kami tahu ia menahan luka. .



bersambung...
Read more

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei