ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

2 Nov 2008

imtihan-gelanggang-ilmu
Dalam kehidupan kita yang tak jelas arah dan tujuannya ini, ternyata ada dua hal penting yang dapat menjernihkan tujuan terciptanya kita. Dua hal itu adalah ilmu dan ibadah. Sebenarnya 2 hal ini bisa kita padatkan lagi menjadi satu hal saja, ilmu. Karena ibadah merupakan aplikasi dari ilmu. Ibadah kita adalah turunan dan keberlanjutan dari kepemilikan ilmu. Sebagaimana kata-kata Imam Ali yang sering kita dengar, Ilmu yang tak diamalkan bukanlah ilmu karena Ilmu selalu melahirkan amal (ibadah).

Pada umumnya, umat islam dunia, khususnya Indonesia, beragama tanpa berilmu. Sehingga walaupun memiliki kuantitas yang banyak tapi tak bisa berikan perubahan berarti.
Pernyataan di atas memunculkan sebuah pertanyaan, "bukankah abid itu juga seharusnya punya ilmu? karena “Tak ada ibadah tanpa ilmu”. Lalu bagaimana mungkin mereka beribadah sementara mereka tak berilmu?

Sepertinya ada kesalah-pahaman dalam melihat fenomena beribadah. Kita terlanjur menganggap orang-orang yang bertekuk lutut sujud di pojokan-pojokan Masjid, menangis tersedu di tengah malam yang sunyi, dan berlama-lama dengan berbagai macam ritual sebagai ibadah. Padahal belum tentu demikian adanya. Gerakan-gerakan dalam ritual tersebut jika tidak diisi dengan ilmu maka hanyalah serantaian gerakan tak bermakna.

Satu pernyataan lagi. Kita tidak bisa beriman kecuali dengan berilmu terlebih dahulu. Benarkah demikian? Bukankah banyak orang yang beriman atau setidaknya terlihat beriman padahal mereka adalah seorang awam? Bagaimana menjawab pertanyaan ini?

Ilmu itu seperti cahaya. Ia akan menerangi jalan kita dan menghindarinya dari gelapnya kehidupan. Sehingga kita tahu mana jalan yang berlubang dan tidak. Dengan demikian, kita bisa lebih mudah untuk menuju-Nya.

Ada pernyataan lain lagi. Sebenarnya ilmu itu didapat bukan karena kita telah mempelajarinya, akan tetapi lebih tepat dikatakan karena anugrah Tuhan. Contohnya, pemahaman kita tentang Islam ini adalah anugrah. Banyak orang yang telah mempelajari ilmu X, Y dan Z tapi tak mendapatkan anugrah pengetahuan bernama Islam.

Pernyataan ini agak sedikit membingungkanku. Okay, katakanlah kita adalah orang yang telah mendapat anugrah telah mengenal Islam walaupun kita adalah orang awam. Pertanyaannya, mengapa kita yang mendapatkan anugrah tersebut bukan mereka yang sudah expert itu, yang notabene lebih pintar dari kita?

Sedikit jawaban yang entah menjawab pertanyaannya atau tidak. Yang aku fahami seperti ini...Ilmu dibagi dua. Ilmu Husuli dan ilmu huduri. Perbedaan kedua model ilmu ini ada pada metode mendapatkan ilmu tersebut. Secara singkat ilmu husuli adalah ilmu yang kita peroleh melalui perantara. Sedangkan ilmu Hudhuri adalah ilmu yang kita dapatkan tanpa melalui perantara. Contoh ilmu Hudhuri adalah pengetahuan kita tentang diri kita. Kita tahu dan sadar bahwa saat ini kita sedang marah tanpa harus melalui perantara, orang lain. Kita “tiba-tiba” tahu hal tersebut. Kita tahu dengan sendirinya. Pengetahuan kita tentang diri kita termasuk kategori ilmu huduri. Ilmu yang didapat “langung” dari-Nya.

Setidaknya yang saya ketahui ada dua cara untuk mendapatkan ilmu hudhuri. Cara pertama adalah dengan melakukan riyadhah, ritual-ritual tertentu dengan tujuan menyucikan diri, menyiapkan jiwa kita untuk menerima ilmu Hudhuri. Karena ilmu hudhuri hanya bisa didapatkan oleh jiwa-jiwa yang bersih dari segala penyakit jiwa. Sedangkan cara kedua, ilmu hudhuri ternyata bisa kita dapatkan melalui ilmu hushuli. Mungkin kita telah banyak membaca atau mempelajari karya-karya Islam, tetapi sesungguhnya sebagian besar pemahaman tentang Islam yang kita miliki sekarang adalah anugrah Tuhan. Ilmu hushuli ini adalah stimulus yang akan “memancing” datangnya pemahaman akan kebenaran Islam.

Banyak orang yang belajar tentang Islam dengan kurun waktu yang tak sebentar, tetapi tak cukup memuaskannya untuk memilih Islam sebagai agamanya. Mungkin karena mereka mempunyai pandangan awal yang negatif tentang Islam dan fanatisme buta pada pandangan tersebut. Selain itu juga mungkin karena tidak adanya ketulusan hati dalam jiwa untuk mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh. Sungguh jika kita mempelajari Islam dengan hati dan pikiran yang jernih, maka Allah sendiri lah yang akan memberikan ilmu dan pemahaman kepada kita.

----*****-----

31 Oktober 2008. Tulisan ini saya buat berdasarkan apa yang saya pahami dari pemaparan Mr. ZZ di Darul Istiqamah

No comments:

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei