ARTomeo Kedai Online Figurin ARTomeo

Search..

Followers

Popular Postss

Thought & Feeling

Graphic Design

Sastra Sufi

Interest

Last Comments

Blog

29 Jan 2013

Data Sejarah

0 komentar
fakta sejarah memang penting. Namun jika tanpa makna, fakta hanya menjadi fakta. tidak lebih.
Read more

2 Jul 2012

Penulis "La Tahzan" menyerukan "Sunni-Syiah Harus Bersatu!

0 komentar
Sunny-Syiah harus bersatu!

Aidh Al-Qarniy, seorang penceramah dari Saudi Arabia yang sangat terkenal di Timur tengah dan pada tahun lalu (2007) pernah berkunjung ke Indonesia. Ia juga seorang penulis yang sangat produktif. Salah satu bukunya berjudul La Tahzan (Jangan Bersedih Hati) menjadi best-seller dan dikabarkan telah melampaui satu juta copy (rekor buku-buku kontemporer berbahasa Arab). Telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain, Inggris dan Indonesia. Tidak kurang dari lima penerbit Indonesia menerjemahkan bukunya dan mengalami sukses luar biasa (belasan bahkan puluhan kali cetak ulang). Di bawah ini tulisannya dua hari yang lalu di harian berbahasa Arab: Assharq Alawsat (terbit di london), saya terjemahkan di bawah ini dengan harapan ada manfaatnya bagi umat Islam di Indonesia. Silakan mem-forward-kannya ke milis2 yang lain jika dianggap perlu. (M. Bagir)

Wahai Orang-Orang Berakal di Antara Kelompok Sunnah dan Syi`ah!
Oleh: `Aidh Al-Qarniy.

Sejauh ini kita telah gagal menghapus perbedaan pendapat di antara kelompok Sunnah dan Syi`ah, walaupun telah berlalu puluhan abad. Maka wajiblah kita mengakui bahwa perbedaan tersebut adalah sesuatu yang memang ada, namun jangan sekali-kali mengembangkannya sehingga menjadi pertentangan berdarah. Cukuplah luka-luka yang kita derita. Cukuplah perpecahan yang mengoyak-koyak kita. Sudah amat banyak bencana yang menghancurkan kita, umat Islam. Sementara itu, zionisme internasional selalu bersiap-siap untuk menghancurkan kita dan mencerabut eksistensi kita dari akar-akarnya. Apa gunanya mengulang-ulang pidato-pidato yang mencaci maki, menyakiti hati, memprovokasi, memusuhi dan menyebut-nyebut kejelekan dan aib masing-masing kelompok? Manfaat apa yang diharapkan dari permusuhan yang menumpahkan darah si Sunni maupun si Syi`i?

Masing-masing kelompok di antara Sunnah dan Syi`ah menganut kepercayaan tentang kebenaran mazhabnya sendiri dan kesalahan mazhab selainnya. Anda takkan mampu mengubah prinsip-prinsip utama yang telah dipercayai manusia sepanjang mereka tetap berkeras hati untuk mempertahankannya. Kami, Ahlus-Sunnah, beri`tiqad bahwa kebenaran ada pada kami, baik melalui Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Dan apabila kaum Syi`ah (mungkin) merasa bahwa kami kurang memberikan penghargaan kepada hak Ahlul-Bait, maka kami ingin menegaskan dengan kuat, terus terang, tanpa tedeng aling-aling, bahwasanya kami berlepas tangan di hadapan Allah dari siapa saja yang merendahkan urusan Ahlul-Bait, atau mencaci mereka atau melecehkan mereka. Bersamaan dengan itu, kami meminta agar kaum Syi`ah juga berhenti merendahkan martabat para Sahabat Nabi saw. atau melecehkan mereka atau mencaci mereka. Membela dan menjaga kehormatan Ahlul-Bait dan para Sahabat merupakan kewajiban atas setiap Muslim dan Muslimah.

Menjadi kewajiban orang-orang berakal, dari kalangan Sunnah dan Syi`ah, untuk berupaya sungguh-sungguh mengubur segala macam fitnah (penyebab pertikaian) di antara mereka, menghindari segala bentuk provokasi atau kebiasaan melempar ancaman ataupun tuduhan pengkhianatan ke alamat kelompok yang lain.

Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syi`ah! Cabutlah semua sumbu pertikaian. Padamkanlah semua api pertikaian. Janganlah menambah lagi bencana umat ini di atas segala bencana yang sudah mereka alami.
Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syi`ah, biarlah masing-masing memilih jalannya sendiri, biarlah masing-masing menentukan arah pandangannya sendiri, sampai kelak saat Allah memutuskan apa yang kita perselisihkan di antara kita.

Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syi`ah! Jangan sekali-kali memberi kesempatan para musuh Islam menghancurkan bangunan umat ini, melibas eksistensi mereka, menghapus jejak risalahnya dan mencemarkan segala kepercayaan sucinya.

Wahai orang-orang berakal di kalangan Sunnah dan Syi`ah! Haramkanlah segala fatwa yang membolehkan membunuh, menumpahkan darah dan mengobarkan api permusuhan, kebencian dan kedengkian. Kita semua, Sunnah dan Syi`ah, menyerukan hidup berdampingan secara damai serta bersedia berdialog dengan kelompok-kelompok non-Muslim. Apakah kita harus gagal menjalani kehidupan damai antara kaum Sunnah dan Syi`ah? Siapa saja yang gagal memperbaiki urusan rumahnya sendiri, tidak akan berhasil memperbaiki urusan rumah orang lain.

Demi keuntungan siapakah terdengarnya suara sumbang busuk tak bertanggungjawab yang berseru: “Hai Syi`i, bunuhlah seorang Sunni, niscaya kau masuk surga!” Lalu dari arah yang lain terdengar suara: “Hai Sunni, bunuhlah seorang Syi`i sebagai penebus agar kau terhindar dari neraka!” Logika apa ini?! Akal apa ini?! Dalil apa ini?! Hujjah apa ini?! Bukti apa ini?!

Wajiblah kita berkata: “Hai Sunni, darah si Syi`i adalah suci; haram menumpahkannya!” “Hai Syi`i, darah si Sunni adalah suci; haram menumpahkannya!”

Belum tibakah saat kita sadar dan mendengarkan suara hati nurani dan akal sehat serta panggilan agama? Jangan sekali-kali ada lagi pelanggaran atas keselamatan orang lain. Jangan ada lagi kezaliman. Jangan pula ada lagi provokasi di antara sesama kita. Jangan ada lagi upaya menyenangkan hati para musuh, dengan mengoyak-koyak barisan-barisan kita sendiri. Jangan ada lagi upaya menghancurkan rumah-rumah kita dengan tangan-tangan kita sendiri. Jangan lagi ada upaya membunuh diri kita dengan pedang-pedang kita sendiri.

Barangkali yang terbaik untuk menghentikan pertikaian di antara Sunnah dan Syi`ah ialah dengan meniru apa yang dilakukan kaum badui (yang dimaksud tentunya di negeri Saudi Arabia—penerj): setiap kali terjadi tabrakan di antara mobil-mobil mereka, mereka berkata: “Masing-masing memperbaiki mobilnya sendiri!” Segera pula masalahnya selesai, tanpa polisi lalu-lintas, tanpa denda tilang dan tanpa hukuman penjara!

Oleh sebab itu, wahai kelompok Sunnah dan Syi`ah, masing-masing kita “hendaknya memperbaiki kendaraannnya sendiri-sendiri!” Allah swt telah memerintahkan kita agar memperlakukan kaum non-Muslim dengan perlakuan yang baik, sepanjang mereka tidak memerangi kita atau mengusir kita dari perkampungan-perkampungan kita. Sebagaimana dalam firman-Nya: “Allah tidak melarang kamu memperlakukan mereka yang tidak memerangi kamu dalam agama dan tidak mengusir kamu dari perkampungan-perkampungan kamu (Allah tidak melarang kamu) memperlakukan mereka dengan baik dan bersikap adil terhadap mereka. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.”

Begitulah perlakuan terhadap kaum non-Muslim. Perlakuan baik di sini artinya adalah mencegah diri jangan sampai mengganggu mereka, berkomunikasi dengan mereka dengan cara yang terpuji dan hidup berdampingan dengan aman dan damai. Maka betapa pula dengan kelompok-kelompok sesama Muslim meskipun berbeda pandangan dan pendirian?? Apa yang dikatakan orang-orang lain ketika menyaksikan masing-masing kita menumpahkan caci-maki dan sumpah serapah ke alamat saudara kita sesama Muslim, penuh pelecehan dan penghinaan?? Saudara-saudara sekandung pun, jika mereka tidak mampu memperbaiki hubungan di antara mereka dan berdiri rapat dalam satu barisan, pastilah mereka itu dalam pandangan masyarakat menjadi rentan terhadap permusuhan, perpecahan, kegagalan dan kekalahan.

Mari kita tinggalkan pidato-pidato berapi-api yang penuh kebencian dan kata-kata kosong tak berharga sedikit pun, lalu kita semua kembali sebagaimana diperintahkan Allah swt: “Berpeganglah kamu sekalian erat-erat dengan tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai!” (Diterjemahkan oleh M.Bagir)
Read more

29 Jun 2012

Gus Mus: "Ada Apa Dengan Kalian?"

0 komentar
ADA APA DENGAN KALIAN
oleh : KH Musthofa Bisri

Kalian sibuk mengujarkan dan mengajarkan kalimat syahadat
Sambil terus mensekutukan diri kalian dengan Tuhan penuh semangat
Berjihad di jalan kalian
Berjuang menegakkan syariat kalian
Memerangi hamba hambaNya yang seharusnya kalian ajak ke jalanNya
Seolah olah kalian belum tahu bedanya
Antara mengajak yang diperintahkanNya
Dan memaksa yang dilarangNya

Kalian kibarkan Rasulurrahmah Al Amien dimana mana
Sambil menebarkan laknatan lil'aalamien kemana mana

Ada apa dengan kalian?

Mulut kalian berbuih akhirat
Kepala kalian tempat dunia yang kalian anggap nikmat

Ada apa dengan kalian?

Kalian bersemangat membangun masjid dan mushalla
Tapi malas memakmurkannya

Kalian bangga menjadi panitia zakat dan infak
Seolah olah kalian yang berzakat dan berinfak
Kalian berniat puasa di malam hari
Dan iman kalian ngeri
Melihat warung buka di siang hari
Kalian setiap tahun pergi umrah dan haji
Tapi kalian masih terus tega berlaku keji

Ada apa dengan kalian?

Demi menjaga tubuh dan perut kaum beriman dari virus keharaman
Kalian teliti dengan cermat semua barang dan makanan
Bumbu penyedap, mie, minyak, sabun, jajanan.
Rokok dan berbagai jenis minuman
Alkohol, minyak babi dan nikotin adalah najis dan setan
Yang mesti dibasmi dari kehidupan
Untuk itu kalian
Tidak hanya berkhotbah dan memasang iklan
Bahkan menyaingi pemerintah kalian
Menarik pajak produksi dan penjualan
Dan agar terkesan sakral
Kalian gunakan sebutan mulia, label halal

Tapi agaknya kalian melupakan setan yang lebih setan
Najis yang lebih menjijikkan
Virus yang lebih mematikan
Daripada virus alkohol, nikotin dan minyak babi
Bahkan lebih merajalela daripada epidemi

Bila karena merusak kesehatan, rokok kalian benci
Mengapa kalian diamkan korupsi yang merusak nurani
Bila karena memabokkan, alkohol kalian perangi
Mengapa kalian biarkan korupsi
Yang kadar memabokkannya jauh lebih tinggi?
Bila karena najis, babi kalian musuhi
Mengapa kalian abaikan korupsi
Yang lebih menjijikkan
Ketimbang kotoran seribu babi

Ada apa dengan kalian?

Kapan kalian berhenti membanguan kandang kandang babi
Di perut dan hati kalian dengan merusak kanan-kiri?
Sampai kalian mati dan dilaknati?

Read more

15 May 2012

Kisah Menarik dibalik Nama Ubuntu

0 komentar


Separately Connected

Pada Festival Perdamaian yang berlangsung di Florianopolis, Brasil Selatan, seorang wartawan dan filsuf Lia Diskin mendapat kisah indah dan menyentuh tentang sebuah suku di Afrika yang ia sebut Ubuntu.Dia menceriterakan pengalaman seorang antropolog mempelajari kebiasaan dan adat istiadat suku ini. Ketika pekerjaannya disana telah selesai, ia harus menunggu transportasi yang akan membawanya ke bandara untuk pulang. Dalam penantian sambil melewatkan waktu sebelum ia pergi, dia mengusulkan sebuah permainan untuk dimainkan oleh anak-anak suku yang selalu mengelilinginya.

Dia membeli banyak permen dan gula di kota, lalu dia meletakkan semuanya ke dalam keranjang berpita indah. Dia meletakkan keranjang itu di bawah salah satu pohon terpencil, dan kemudian ia memanggil anak-anak. Diskin menarik garis di tanah dan menjelaskan bahwa mereka harus menunggu di belakang garis sambil menunggu kode darinya. Ketika ia mengatakan "Go!", mereka harus berlari ke keranjang, dan yang pertama tiba di sana akan memenangkan semua permen.

Namun yang terjadi tidaklah demikian. Saat dia mengatakan "Go!", semua
anak-anak suku tiba-tiba saling memegang tangan masing-masing dan berlari menuju pohon itu sebagai sebuah kelompok. Sesampai di sana, mereka berbagi permen satu sama lain dan memakannya dengan penuh kegembiraan.

Tentu saja, antropolog itu sangat terkejut. Ia bertanya kepada mereka, "mengapa kalian semua pergi bersama-sama, bukankah yang pertama sampai di pohon itu bisa mendapatkan semua permen yang ada di keranjang?

Seorang gadis muda hanya menjawab, "Bagaimana bisa salah satu dari kami senang jika yang lainnya sedih?"


Antropolog itu tercengang! Berbulan-bulan ia telah mempelajari suku tersebut, namun baru sekarang ia benar-benar memahami esensi mereka yang sebenarnya.Ubuntu (u-bun-tu) Berarti, "Saya adalah kita." Ubuntu adalah sebuah kata dalam bahasa Zulu atau Xhosa, dan ia merupakan sebuah konsep tradisional di Afrika. Ini adalah istilah untuk "kemanusiaan, kepedulian, berbagi dan menjadi harmoni dengan seluruh ciptaan, tema zaman yang baru saja tiba, zaman Aquarius".

"Bangsa Afrika memiliki sebuah konsep yang disebut ubuntu. konsepi ini adalah tentang esensi dari manusia, sebuah karunia yang Afrika berikan pada dunia. Konsep ini mencakup keramah-tamahan, kepedulian terhadap sesama, kebersediaan untuk bekerja ekstra demi sesama manusia.Kami percaya bahwa seorang manusia menjadi manusia melalui manusia lainnya, bahwa kemanusiaan saya terkait dan terikat dengan kemanusiaan Anda. Ketika saya tidak memanusiakan Anda, saya sedang mendehumanisasi (merendahkan kemanusiaan) saya sendiri. Ditinjau dari istilahnya, esensi manusia adalah kontradiksi. Olehkarena  itu, berusahalah untuk bekerja untuk kebaikan bersama karena kemanusiaan anda datang dengan sendirinya pada masyarakat, dalam kebersamaan. 

   

 
- Uskup Agung Desmond Tutu 

Translator: Ali Muqi
English Source:  harisingh.com 
Read more

9 May 2012

Karena Setiap Nama Harus Memiliki Makna

0 komentar
Seharian duduk di depan komputer, mendesain konten SSM sambil sesekali browsing di ruangan ber-ac membuat badan saya sedikit tidak enak.  Apalagi kalau itu semua dilakukan sampai siang hari tanpa mandi di pagi harinya. Kebetulan kamar manda lantai 2 kantor sedang kosong. Disana ada shower yang bisa di-setting air panas. Ditengah-tengah mandi, saat kucuran air shower yang terasa terlalu panas, pikiran saya tiba-tiba terbayang sebuah nama; Noi Butthei. Noi Butthei adalah nama yang saya gunakan untuk sebuah account gmail dan nama profil di facebook. Saya tidak menggunakan nama saya sendiri untuk account gmail & facebook saya bukan karena saya tidak menyukai nama pemberian ayah saya. Hanya saja ayah saya memberikan sebuah nama yang terlalu berat dan panjang untuk saya pikul sendiri; Ali Ahmad Ayatullah Muqimuddin. Beberapa teman saya yang muslim, bahkan mungkin non-muslim, pasti familiar dengan makna nama saya itu. Untuk yang tidak familiar, saya ceriterakan beberapa maknanya dan alasan kenapa saya merasa agak "keberatan" dengan nama itu.

Kata "ali" dalam bahasa sunda berarti cincin. sewaktu SMP saya tinggal di sebuah asrama di pinggir kota Bandung, tepatnya di desa Lembang Gede. Teman-teman saya suka mengolok-ngolok saya ketika menemukan "kue ali" di warung jajanan di samping sekolah. Mereka memakan kue ali yang berbentuk lingkaran seperti cincin itu, melirik saya sambil berpura-pura memakan saya. Tapi sayangnya bukan ini pemaknaan yang dimaksud oleh ayah saya. Teman-teman saya pasti kecewa mendengarnya. Ayah saya memberi saya nama ali dengan pemaknaan dalam  bahasa arab yang berarti "yang mulia" atau "yang tinggi kedudukannya". Kata ini juga merujuk pada sepupu nabi Muhammad yang dalam hampir seluruh tariqat sufi (kecuali Tariqat Naqsabandi) merupakan "pintu masuk" ke dalam ajaran Nabi Muhammad yang agung untuk mendekati Tuhan yang Maha Mulia.

Seperti kata "ali", seluruh nama panjang saya juga didapat dari kata dalam bahasa arab. Kata "Ahmad" dalam bahasa arab berarti "yang terpuji". Kitab Injil menyebut kata 'ahmad" untuk memanggil nabi ummat Islam, Muhammad, karena kelak Nabi Muhammad saww menjadi makhluk yang paling banyak dipuji oleh penghuni, bukan hanya dunia, namun semesta.  Saya merasa tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang kata ini.

Kata Ayatullah secara gramatikal berarti "tanda-tanda Allah" atau sering diartikan "tanda-tanda kebesaran Allah". Dewasa ini, kata "ayatullah" digunakan untuk gelar pemimpin spiritual tertinggi di kalangan Islam Syiah di Iran, dan tentunya saya sama sekali tidak ada kaitannya dengan gelar ini.  Nama terakhir saya, Muqimuddin, berasal dari dua kata dalam bahasa arab, yakni muqim dan ad-din.  kata Muqim berasal dari kata aqama yang memiliki makna "menetap" atau "mendirikan" atau "menjalankan", sedangkan kata ad-din dalam bahasa indonesia sering diterjemahkan sebagai "agama". Kata din ini terdiri dari tiga huruf hija'iyah; dâl, yâ dan nun. Bagaimanapun cara membacanya dalam bahasa arab, maknanya selalu menggambarkan hubungan antara pihak yang lebih tinggi dengan pihak yang lebih rendah. Kaitannya dengan agama, maka din adalah ajaran-ajaran yang terkait dalam hubungan antara Tuhan dengan makhluknya. Jadi  "muqimuddin" kurang lebihnya bermakna "orang yang mendirikan agama atau menjalankan ajaran-ajaran agama untuk bisa sampai kepada Tuhan".  Fiuh!


Setelah menuliskan sepintas makna kata yang diberikan ayah saya kepada saya, saya semakin merasa nama saya itu memang terlalu "berat" sampai seringkali membuat saya malu ketika seseorang menanyakan nama lengkap saya. Saya tidak seperti Ali yang suci dan gagah berani, tidak pula seperti Ahmad yang terpuji. Saya juga tidak bisa membuat orang lain melihat tanda-tanda kebesaran Tuhan pada diri saya karena memang saya tidak beragama sebagaimana seharusnya orang beragama, yaitu kaffah beragama lahir dan bathin.  Pantas sejak saya mulai serius mempelajari agama--sekitar SMP--saya jarang mengenalkan diri sebagai "Ali" namun lebih sering mengenalkan diri sebagai "Alay" . Ya, alay! Kata yang beberapa tahun belakangan ini booming dan digunakan untuk mendefinisikan anak-anak narsis lebay gak jelas yang terlalu sok gaoel dan selalu pengen pamer ke-amit-amitannya. Lalu dari mana kata alay saya dapatkan? Kata "alay" untuk nama saya itu sebenarnya adalah panggilan teman-teman saya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya yang waktu itu beberapa kali pindah tempat tinggal, entah bagaimana ceriteranya ketika keluarga saya kembali tinggal (karena sebelumnya juga pernah) bersama kakek saya di daerah Kota Bambu, teman-teman saya memanggil saya alay. Selang berapa lama saya bergaul dengan mereka, saya ketahui di Kota Bambu sedang booming bahasa gaul yang suka menambahkan akhiran "-ay" pada setiap nama yang berakhiran "i". Teman saya Juli dipanggil Julay dan Budi dipanggil Buday. Dan karena nama saya ali, maka jadilah saya dipanggil alay. Saat SMP, saya yang sudah terlanjur terbiasa dipanggil alay (walau saat itu saya sudah hampir lupa dari mana kata itu didapat) berusaha untuk memaknai ulang kata tersebut agar tidak menimbulkan kesan penamaannya terlalu dangkal. Sampai pada suatu ketika saya putuskan kata alay tetap saya gunakan akan tetapi dengan pemaknaan yang berbeda; Alay adalah  singkatan dari nama saya, Ali dan Ayatullah. :D

Seingat saya, terakhir kali saya mengenalkan diri dengan nama "alay" adalah beberapa tahun lalu saat kata "alay" dengan pemaknaan "anak lebay" itu muncul. Beberapa kenalan baru enggan memanggil saya "alay" karena merasa aneh atau ada juga yang merasa sedang menghina saya ketika memanggil saya alay. Awalnya saya agak "memaksa" mereka untuk tidak perlu ragu memanggil saya "alay" dan bukan "ali", tapi tetap saja tidak bisa. Waktu berlalu demikian cepat. Saya belajar banyak hal baik di kelas-kelas filsafat dan tasawuf yang saya gemari (dibanding teologi dan fiqih) maupun dari beberapa pengalaman sederhana di kehidupan sehari-hari. Di kemudian hari, walau saya lebih suka dipanggil alay, namun saya tidak terlalu dipusingkan orang mau memanggil saya dengan panggilan apa. "Apalah arti sebuah nama", ungkapan Shakespear ini sering kita dengar. Ya, memang.. Apalah arti sebuah nama jika dibandingkan dengan esensi yang disimbolkan oleh nama itu sendiri. Mawar tak akan harum jika ia hanya nama, dan dzat yang mencipta semesta ini pun akan tetap sama walau dipanggil dengan nama yang berbeda? Nama tak lagi menjadi begitu penting bagi saya. Saya pun mengalah dan kembali mengenalkan diri sebagai Ali. Eh, tidak. Nama "Ali" jarang saya gunakan karena saya merasa terlalu banyak anak di dunia ini yang bernama ali (dan juga ahmad atau muhammad). Karena itu,  ketika membuat account e-mail baru dan facebook saya, saya menggunakan nama yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan nama asli saya. Beberapa teman sempat menanyakan arti dan makna yang saya gunakan saat itu; Alay Qid dan Noi Butthei.

Alay Qid merupakan singkatan, tepatnya akronim, dari nama lengkap saya yang sudah tuliskan di awal catatan ini; Ali Ahmad Ayatullah Muqimuddin. Sedangkan nama "Noi Butthei" adalah penjabaran dari lafadz tauhid dalam agama Islam--la ila ha illa allah (Tiada Tuhan Selain Allah)-- atau dalam bahasa inggris, "there is no god but The God". Mengapa ada god (dengan "g" kecil) & God (dengan "G" besar), adakah perbedaan antara keduanya? Kata "the" dalam bahasa inggris bermakna definitif; sama seperti lafadz "al" dalam bahasa arab. Karena itu, "god" bermakna tuhan secara umum dan "The God" bermakna  tuhan tertentu yang kita yakini.  Lalu saya ganti kata "god" menjadi "i" (dengan "i" kecil) dan "God" menjadi "I" (dengan "I" besar). Bagi sebagian orang, pengubahan tersebut terasa agak dipengaruhi pemikiran wahdatul wujud-nya Ibn Arabi atau manunggaling kawulo gusti-nya Syeikh Siti Jenar, dan hal itu memang benar. Setelah mengganti kata god menjadi i dan God menjadi I, saya pisah-satukan lima kata dalam bahasa inggris tersebut dari "No I But The I" menjadi "Noi Butthei".

"No I But The I" dalam bahasa indonesia berarti "tiada aku (dengan "a" kecil) selain Aku (dengan "A" besar)". Saya--dan mungkin juga kebanyakan dari pembaca catatan ini--meyakini bahwa di seluruh jagat raya ini hanya ada satu Aku, yaitu Aku-nya Tuhan. Konsekuensi dari keyakinan ini adalah, kita tidak boleh merasa memiliki "aku" karena "aku" yang seolah kita miliki ini sebenarnya hanyalah "aku" milik "Aku". Jika kita merasa memiliki "aku" yang berbeda dengan "Aku"-nya Tuhan,  maka secara tidak sadar kita sedang musyrik atau dengan kata lain, kita sedang menduakan Tuhan.

Sang Aku atau Tuhan yang Esa dan hanya satu-satunya itu lalu mengejawantahkan atau memanifestasikan diriNya menjadi aku-aku kecil. Kita lah aku-aku tersebut, yang tak lain adalah bagian dari Aku-Nya. Pernah beberapa teman beraliran Islam salaf  menyangkal dan menganggap sesat pernyataan ini. Bagi mereka, manusia--makhluk--sangat berbeda dengan Tuhan--khalik. Saya ingin mengatakan ini kepada teman saya sekaligus mengakhiri catatan ini;

Jika manusia menganggap dirinya hanyalah kumpulan gempalan daging yang membentuk wujud mirip primata, tentu saja manusia berbeda dengan Tuhan. Tapi sayangnya, manusia bukanlah gumpalan daging semata. Teman saya mungkin benar, manusia berbeda dengan Tuhan sebagaimana berbedanya antara tetesan air laut dan samudera yang meliputi seluruh laut. Namun Bagaimana pun, bukankah setetes air laut juga disebut air laut?

*Rabu, 9 Mei 2012 @Bath tub toilet lantai dua, basecamp design ITS DC, Bekasi.
Read more

15 Apr 2012

Nyai Sobir, oleh A Mustafa Bisri

0 komentar
Ribuan bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku.
Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum.
Almarhum sejak selesai dimandikan dan dikafani, sudah sepenuhnya milik mereka para pelayat diri sendiri itu. Mereka bawa almarhum ke mesjid yang sudah penuh sesak untuk mereka sembahyangi. Aku setengah sadar mengikuti upacara pelepasan jenazah. Kiai Salman, sahabat almarhum, yang memberi sambutan atas nama keluarga. Lalu beberapa kiai dari berbagai daerah memanjatkan doa; tapi aku tak tahu persis siapa-siapa mereka. Aku hanya asal mengamini.
Hari berikutnya dan berikutnya, banjir jama’ah laki-laki perempuan tak susut meluapi makam dan mesjid pesantren kami. Alunan tahlil dan doa seolah tak pernah putus dari pagi hingga malam hari. Mereka meratapi kepergian almarhum yang selama ini mereka anggap guru dan bapak. Sandaran mereka. 
Kiai Sobir atau yang popular dipanggil Mbah Sobir adalah sesepuh dalam arti yang sebenarnya di wilayah kabupaten kami dan sekitarnya. Di samping mengasuh pesantren dengan ratusan santri laki-laki perempuan, beliau secara de facto juga mengasuh dan melayani ribuan ’santri kalong’. Mereka yang tidak tinggal menetap di pesantren, tapi selalu datang untuk mengikuti pengajian rutin beliau atau yang sekadar sowan dengan berbagai keperluan. Belum lagi mereka yang datang dari tempat-tempat yang jauh. Bahkan banyak sekali pejabat dari tingkat propinsi dan pusat yang menyempatkan dirisowan kiai sepuh yang sederhana ini.
Dalam hal menerima tamu, pastilah tak ada yang dapat menandingi Kiai Sobir. Hampir setiap hari dari pagi hingga malam, ndalem*) beliau tak pernah sepi dari tamu, baik yang datang perorangan atau—kebanyakan—berombongan. Bahkan tidak jarang rombongan tamu datang tengah malam. Dan ’peraturannya’, setiap tamu yang datang harus makan.
Ruang tamu ndalem beliau yang sederhana, didominasi oleh dua bale-bale besar dari bambu dialasi tikar pandan. Ada bangku memanjang tempat Mbah Sobir duduk dan—biasanya dengan—kiai atau tamu sepuh yang diajak duduk bersama beliau. Di depannya ada meja kuno yang selalu penuh dengan makanan, dikelilingi beberapa kursi yang tidak seragam. Di atas dua bale-bale besar itulah biasanya santri-santri ndalem dengan sigap mengatur hidangan untuk makan para tamu.
Kiai Sobir tidak membedakan siapa-siapa yang datang kepada beliau. Siapa pun tamunya, pejabat tinggi atau rakyat jelata; laki-laki atau perempuan; dari kalangan santri atau tidak; beliau terima dengan gembira dan penuh penghormatan. Telinga beliau dengan sabar menampung segala keluhan, curahan hati, bahkan bualan tamu-tamunya yang beragam. Di hadapan beliau, semua orang merasa benar-benar menjadi manusia yang merdeka. Manusia yang dimanusiakan.
Maka mereka pun tak segan-segan mengutarakan keperluan-keperluan mereka. Mulai dari mengundang ceramah, hingga mengundang untuk peletakan batu pertama pembangunan mesjid atau madrasah. Mulai dari minta doa restu, hingga minta utangan. Dari minta air suwuk**) untuk anak yang rewel, hingga minta nasihat perkawinan. Dari minta dicarikan jodoh, hingga minta dicarikan mantu. Dari minta arahan menggarap sawah, hingga minta dukungan untuk pilkada. Dari minta fatwa keagamaan, hingga minta bantuan kenaikan pangkat .
Maka tak heran bila kepergian Kiai Sobir mendapat perhatian yang begitu luas. 
Semua perhatian hanya tertuju kepada almarhum bahkan sampai peringatan wafat beliau yang ke-40. Empati hanya tertuju kepada mereka sendiri yang merasa kehilangan Kiai Sobir. Aku terlupakan sama sekali. Aku adalah istri almarhum yang selama ini mereka panggil Nyai Sobir. Perempuan yang kemarin-kemarin juga mereka perhatikan dan hormati bersama almarhum. Perempuan yang mendampingi beliau sejak nyai sepuh wafat hingga akhir hayat beliau.
Akulah yang selama ini mengatur keperluan-keperluan pribadi abah (begitu aku selalu memanggil beliau) sehari-hari; mulai potong rambut hingga pakaian yang abah kenakan. Akulah yang mengatur jadwal abah; kapan mendatangi undangan-undangan dan kapan mesti istirahat. Akulah juga yang mengatur agar mereka yang sowan tidak ada yang terlantar. Semua harus disuguh makan seperti yang dikehendaki abah.
Peringatan 40 hari wafat almarhum abah, banjir manusia kembali meluapi kawasan pesantren kami. Setelah itu barulah pengunjung yang berziarah agak menyusut. Aku tidak tahu apakah orang-orang mulai mengingatku sebagai Nyai Sobir pendamping kiai mereka atau tidak; yang jelas aku sendiri teringat saat nyai sepuh, istri abah yang pertama wafat. Teringat beberapa bulan kemudian aku yang kala itu nyantri di pesantren abah dan baru berumur 20 tahun, dipinang abah melalui seorang tokoh masyarakat di desaku.
Ketika kemudian orangtuaku—yang juga termasuk santri kiai abah—menyampaikan pinangan itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Perasaanku campur aduk tidak karuan. Kaget, tidak percaya, bangga, dan entah apa lagi. Tapi karena kedua orangtuaku sepertinya mendukung, aku pun akhirnya ikut saja seperti kerbau dicocok hidung. Walhasil jadilah aku Nyai Sobir. Istri seorang kiai besar yang dihormati tidak hanya di wilayah kota kami saja. Kiai yang bila ada pembesar datang dari ibu kota, tidak pernah terlewatkan dikunjungi dengan segala penghormatan.
Sebagai pendamping kiai sekaliber abah, aku mempunyai sedikit modal. Di samping berwajah lumayan, aku hafal Al-Quran dan di pesantren bagian puteri, aku menjabat sebagai pengurus inti. Ditambah lagi, berkat latihan setiap malam Selasa di pesantren, aku sedikit bisa berpidato. Maka tidak lama, aku sudah benar-benar bisa menyesuaikan diri. Masyarakat pun tampaknya sudah benar-benar memandangku sebagai nyai yang pantas mendampingi Kiai Sobir. Bahkan sesekali aku diminta panitia mewakili abah mengisi pengajian.
Dari sisi lain; perasaanku terhadap abah yang semula lebih kepada menghormati, berangsur menjadi menyintai beliau. Apalagi abah begitu baik dan bijaksana sikapnya terhadap diriku yang dari segi umur terpaut sangat jauh. Abah tahu bahwa aku masih muda dengan pikiran dan keinginan-keinginan anak muda. Abah tidak pernah melarangku misalnya melihat televisi atau mendengar lagu-lagu dari radio. Paling-paling beliau hanya mengingatkan supaya aku tidak melupakan tugas-tugas.
Peringatan 100 hari wafat abah, kemudian 1 tahun, kemudian peringatan haul beliau setiap tahun (sekarang sudah haul yang ke 7), terus ramai dibanjiri ribuan orang dari berbagai penjuru. Aku terlupakan atau tidak oleh mereka. Tapi aku benar-benar terus merasa sendirian.
Abah, apakah di sana abah masih memperhatikanku seperti dulu? Aku kini benar-benar sendirian, abah. Sendirian. Alangkah cepatnya waktu. Alangkah singkatnya kebersamaan kita. Kini tak ada laki-laki yang kuurus sehari-hari. Tidak ada orang yang selalu memperhatikanku, yang menasihati dan memarahiku. Dan persis seperti kata Titik Puspa dalam salah satu tembangnya. Tidak ada lagi tempat bermanja.
Aku mencoba sebisaku ikut mengurus pesantren tinggalan abah. Alhamdulillah ustadz-ustadz yang gede-gede masih setia mengajar di madrasah dan pesantren kita. Pengurus pesantren juga masih menganggap aku Nyai mereka dan mereka taati seperti saat abah masih hidup.
Ah, semuanya seperti berjalan biasa-biasa saja, abah. Hanya setiap malam ketika aku sendirian, aku selalu teringat abah. Pedih rasanya tak mempunyai kawan berbincang yang seperti abah; yang setia mendengarkan celotehku meski sepele, yang siap membantu memecahkan masalah yang aku lontarkan. Oh, abah. Kini aku mempunyai masalah besar dan abah tak ada di sampingku.
Orang mulai memperhatikanku. Tapi tidak seperti perhatian mereka saat abah masih ada. Kini mereka memperhatikanku sebagai janda muda. Baru setahun abah meninggalkan kami, sudah ada saja godaan yang harus aku hadapi. Seorang ustadz yang sudah mempunyai dua orang istri, terang-terangan melamar aku. Lalu seorang duda kaya mengirimkan proposal lamaran, lengkap dengan CV-nya. Belakangan seorang perwira polisi bujangan juga menyampaikan keinginannya yang serius mempersunting aku. Semuanya aku tolak dengan halus.
Kemudian kedua orangtuaku sendiri dengan hati-hati menanyakan kepadaku apakah aku memang sudah ingin menyudahi status jandaku. Ingin didampingi oleh seorang suami. Namun ketika aku tanya ”Kawin dengan siapa?” kedua orangtuaku tidak bisa menjawab. Dan sejak itu mereka tidak pernah menyinggung-nyinggung masalah itu lagi.
Sungguh, abah, bukan kebutuhan biologi benar yang membuat aku terpicu pertanyaan kedua orangtuaku dan berpikir tentang laki-laki lain untuk menjadi suami setelah abah. Meski tidak aku pungkiri faktor biologi itu ada. Tapi dengan memikul tanggung jawab memelihara pesantren tinggalan abah, aku sungguh memerlukan penopang. Belum banyak ilmu yang sempat aku serap dari abah. Aku perlu pengayom seperti abah dulu. Aku perlu orang dengan siapa aku dapat bertukar pikiran. Syukur dapat memberikan nasihat dan arahan bagi kelangsungan dan perkembangan pesantren kita.
Dalam pada itu, abah, telingaku yang tersebar di mana-mana, terus mendengar pembicaraan masyarakat. Beberapa tokoh masyarakat diam-diam membicarakan diriku dan pesantren kita. Mereka iba terhadap nasibku dan sekaligus memprihatinkan pesantren. Mereka sadar bahwa aku masih muda dan di sisi lain, pesantren kita butuh kiai laki-laki seperti umumnya pesantren-pesantren yang lain. Mereka, seperti juga aku, terbentur kepada pertanyaan: siapakah kiai laki-laki itu? Kemudian kudengar mereka menyepakati kriteria dan syarat-syarat siapa yang boleh mengawiniku.
Mereka tidak rela kalau aku dipersunting orang ’biasa’ yang tidak selevel abah. Mana ada orang yang selevel abah mau mendampingiku? Masya Allah, abah. Apakah karena menjadi jandanya kiai seperti abah, lalu aku hanya dianggap obyek yang tidak berhak menentukan nasib sendiri?
Setiap malam aku menangis, abah. Menangis sebagai Nyai yang mendapat warisan tanggung jawab. Menangis sebagai perempuan dan janda muda yang kehilangan hak. Tapi aku tetap nyaimu, abah; aku tidak akan menyerah. Aku percaya kepadaNya.
17 Desember 2011
*) ndalem > sebutan untuk rumah kediaman kiai pesantren
**) air suwuk > air yang didoa-i


Read more

22 Mar 2012

Global March to Jerusalem (GMJ) - Indonesia Open Recruitment

0 komentar
This poster was made by Filolet for purpose of spreading info.
MENGUNDANG SEMUA KALANGAN, MEDIA, MASYARAKAT SIPIL, PEMELUK 3 AGAMA BESAR (ISLAM, KRISTEN, YAHUDI DAN PARA PECINTA KEADILAN DAN KEMANUSIAAN

GMJ ADALAH KAMPANYE MASYARAKAT SIPIL DUNIA UNTUK MEMBEBASKAN JERUSALEM DARI PENJAJAHAN ZIONIS ISRAEL UNTUK 3 AGAMA BESAR (ISLAM, KRISTEN, YAHUDI) DAN PARA PECINTA KEADILAN DAN KEMANUSIAANL

SEMUA PESERTA DARI ASIA, AFRIKA, EROPA, AMERIKA,AUSTRALIA AKAN BERTEMU DI PERBATASAN JORDAN- ISRAEL 30 MARET 2012

DONASI:
No rek donasi blm ada mas: BCA, 686.0141114, a/n. Medical Emergency Rescue Committee

PRESS RELEASE DAN LAUNCHING:

SABTU, 16.00 WIB, 11 FEBRUARI 2012
DI KANTOR MER-C:

MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)
Gedung MER-C, Jl. Kramat Lontar No. J-157, Senen, Jakarta Pusat 10440

Telp/Fax : 021-3159235 / 3159256
HP : 0811 99 0176
Website : www.mer-c.org  
Email : merc@indosat.net.id; gmjindonesia@gmail.com 

SELENGKAPNYA DAN DAFTAR: 

KLIK BANER GMJ, www.voiceofpalestine.net ,www.mer-c.org

DI DUKUNG OLEH:  

[ + ] MER-C. VOP (VOICE OF PALESTINE), 
[ + ] (AWG) AQSA WORKING GRUP, 
[ + ] HILAL AHMAR SOCIETY INDONESIA, 
[ + ] MEGAWATI INSTITUTE, 
[ + ] MAARIF INSTITUTE, 
[ + ] RADIO RASIL 720 AM, 
[ + ] VIVA PALESTINA INDONESIA, 
[ + ] RUMAH ZAKAT, 
[ + ] DANA MUSTADAFIN, 
[ + ] I LOVE MUHAMMAD NETWORK
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Software Used: Xara Designer Pro 7 
Time: Thursday, March 22, 2012
Client: no
Read more

Have You Talked to God Today?

0 komentar

Read more

Latest

  • Pals


    © 2011 Filosof Toilet Basic Theme by Insight Inspired By this dude Full Retouch by Noi Butthei